Ketahanan dan kemandirian pangan merupakan salah satu tujuan utama program pembangunan pertanian yang digariskan pemerintah. Sasaran yang ingin dicapai meliputi swasembada berkelanjutan padi dan jagung serta kedelai.
Swasembada pangan berkelanjutan akan lebih terjamin mudah bila didukung oleh diversifikasi pangan. Indonesia kaya akan sumberdaya pangan dan tradisi untuk pengembangan diversifikasi pangan yang luas dan berkelanjutan.
Salah satu jenis tanaman pangan yang sejak dahulu berperan penting dalam diversifikasi pangan di Indonesia adalah ubikayu. Ubikayu memiliki potensi besar pula untuk lebih dikembangkan lagi sebagai komponen diversifikasi. Di antara alasannya, sebagaimana dikemukakan Dr. Sholihin, ubikayu dalam bentuk segar, tepung ataupun pati dapat diolah menjadi beragam jenis makanan. Lagipula, ubikayu ditanam di hampir seluruh provinsi di Indonesia dengan kondisi lingkungan yang beragam. Namun, itu memerlukan ketersediaan bahan baku ubikayu yang cukup. Sedangkan faktanya sekarang, produktivitas ubikayu di tingkat petani dinilai masih rendah, sekitar 23 ton per hektar.
Menyampaikan makalah tentang hasil-hasil penelitian ubikayu mendukung swasembada pangan pada seminar Tanaman Pangan di Bogor, peneliti senior dari Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi (Balitkabi), Malang itu menekankan perlunya upaya meningkatkan produktivitas dan daya saing ubikayu. Ia optimis karena produktivitas ubikayu di Indonesia sebenarnya masih dapat ditingkatkan, bahkan ada yang bisa mencapai lebih dari 100 ton/ha. Caranya tentu saja dengan penggunaan varietas unggul yang sesuai dengan lokasi, bibit yang baik, pemupukan yang sesuai, penyiangan serta pengendalian hama dan penyakit.
Sejak 1978 sudah banyak varietas unggul yang dilepas dengan keunggulan spesifik masing-masing termasuk mengenai produktivitas dan kesesuaian penggunaannya. Untuk kegunaan sebagai ubi rebus, ubi goreng, singkong keju, kerupuk, keripik dan tape ada varietas unggul Litbang UK2, Malang 1, Malang 2, Darul Hidayah danAdira 1. Untuk dijadikan pati, serbuk, tepung, tepung modifikasi, chips dan gaplek pilihannya bisa jenis yang daging ubinya rasa tidak pahit yakni varietas Libtang UK2, Adira 1, Malang 1, Malang 2, dan Darul Hidayah. Dapat pula menggunakan varietas yang daging ubinya rasa pahit yakni Adira 2, Adira 4, Malang 4, Malang 6, UJ 3, danUJ 5. Varietas-varietas unggul tersebut siap pula dimanfaatkan untuk menghasilkan komoditas penting lainnya seperti gula cair dan bioetanol.
Tidak Rakus Hara
Salah satu penghambat pengembangan produksi ubikayu ialah adanya pendapat tumbuhan ini rakus unsur hara. Merujuk pada laporan penelitian Howeler (2008), Sholihin menegaskan bahwa ubikayu sebenarnya tidak rakus bila dibanding tanaman pangan lainnya. Penghilangan (penyerapan) nutrisi hara nitrogen (N) dari tanah oleh ubikayu dengan hasil 35,7 ton/ha (segar) mencapai 55 kg /ha. Angka ini jauh di bawah kacang tanah (105 kg/ha), jagung (96 kg/ha), di bawah ubijalar (61 kg/ha), padi (60 kg/ha), dan hampir sama dengan gandum (56 kg/ha) dsb. Angka tersebut lebih tinggi dari tebu (43 kg/ha).
Penghilangan nutrisi hara Phospat (P) ubikayu tersebut di atas mencapai 13,2 kg/ha, lebih rendah dibanding tebu (20,2 kg/ha), jagung (17,4 kg/ha), hampir sama dengan ubijalar (13,3 kg/ha), dan lebih tinggi dari gandum (12 kg/ha), padi (7,5 kg/ha), kacang tanah (6,5 kg/ha).
Penghilangan nutrisi yang menonjol oleh ubikayu adalah pada hara kalium (K) sebesar 112 kg/ha, lebih tinggi dari ubijalar (97 kg/ha), tebu (96 kg/ha), jauh lebih tinggi dibanding kacang tanah (35 kg/ha), jagung (26 kg/ha), padi dan gandum (masing-masing 13 kg/ha).
Data tentang penyerapan nutrisi dari tanah dapat digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam kebijakan aplikasi pemupukan. Pemberian pupuk bersifat spesifik lokasi bergantung varietas, jenis tanah, kandungan hara serta kondisi alam serta sistem pertanaman.
Laporan dari satu percobaan yang dilakukan menunjukkan bahwa perlakuan tanpa pupuk K memberikan hasil ubikayu terendah. Laporan lain menyebutkan penambahan pupuk organik yakni pupuk kandang dapat meningkatkan hasil ubikayu. Lainnya menyebutkan dampak positip sistem tumpangsari.
Varietas Malang 6 dilaporkan oleh Sholihin dkk (2010) dapat memberi hasil lebih dari 100 ton/ha pada jarak pertanaman 1,25 x 1,25 m, dibumbun, dipupuk dengan 500 kg Ponska + 300 kg urea + 5-10 ton pupuk kandang per hektar. Pada penanaman di tanah alfisol di Gunung Kidul, hasil ubikayu dapat meningkat 2-3 kali lipat oleh sistem tumpangsari dengan kacang tanah dan pemberian pupuk urea 150 kg + pupuk Za 100 kg/ha untuk ubikayu dan 25 kg urea untuk kacang tanah.
Tanam Tepat Waktu
Dua musuh utama tanaman ubikayu adalah hama tungau merah (Tetranycchus bimaculatis) dan penyakit busuk akar/ubi (root rot). Serangan tungau merah dapat menyebabkan kehilangan hasil ubikayu sampai 95%. Penyakit busuk akar dapat menyebabkan tanaman tumbuh kerdil dan tidak menghasilkan ubi.
Dua jenis penyakit busuk akar adalah busuk basah dan busuk kering. Busuk basah disebabkan jamur-jamur tanah seperti Fusarium sp, Phytopthora drechsleri dsb., sedangkan busuk kering disebabkan mikroba Sigidoporus lignosus dll. Fusarium dapat menyerang ubi sejak awal hingga masak panen dan terbawa ke tempat penyimpanan sehingga menyebabkan penyakit pasca panen.
Untuk menghindari serangan tungau merah, dianjurkan agar menanam ubikayu yang lebih tahan. Di antara klon yang tahan tungau merah adalah Adira 4. Yang agak tahan adalah Litbang UK2, UJ 5, CMM 99008-3, MLG 10311, MLG 10032, MLG 10033, CMM 03069-6, dan CMM 03008-11.
Menghadapi busuk ubi oleh Fusarium perlu upaya khusus menjaga drainase lahan yang cukup baik. Varietas tahan Fusarium memang masih jarang. Yang tahan adalah Adira. Yang agak tahan adalah Litbang UK2 dan UJ 5.
Untuk lebih mendukung keberhasilan produksi, diingatkan bahwa momen tanam yang ideal adalah secepat mungkin ketika hujan sudah mulai turun. Begitu hujan mulai, ubikayu langsung ditanam. Bila hujan sudah berlanjut baru ditanam, tanah sudah akan mulai asam sehingga pertumbuhan akar tidak sempurna. Olson PS
1 komentar:
mantep mas admin
Posting Komentar