Jumat, 27 November 2015

Cybex Day

BPP Pare
Temu lapang Agribisnis Timun (Hortikultura) di Poktan Sido Makmur Desa Tertek, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri 


Dalam rangka meningkatkan kapasitas  BPP, maka BPP Kecamatan Pare Kabupaten Kediri telah melaksanakan demplot agribisnis hortikultura dengan komuditas timun. Kegiatan tersebut ditindak-lanjuti dengan kegiatan temu lapang yang diselenggarakan bekerjasama dengan PT Agricon. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 4 November 2015 di lahan Bapak Sugiono selaku petani demonstrator. Hadir dalam kegiatan ini antara lain para petani sekitar, Penyuluh Pertanian, Penyuluh Pertanian Swasta dan Babinsa yang secara keseluruhan dapat memanfaatkan media demplot dan temu lapang.
Tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan temu lapang ini adalah membuka kesempatan bagi petani sekitar untuk mendapatkan informasi tentang teknologi yang diterapkan dalam demplot serta menjalin hubungan yang lebih akrab antara petani dengan petugas baik dinas maupun swasta. Demplot Timun dilaksanakan pada lahan seluas 0,14 Ha ( 100 Ru ). 
Kegiatan demplot di awali dengan CPCL dan survey lahan. Sedangkan kegiatan agribisnis meliputi perencanaan, penyediaan agro-input, pengolahan lahan, perawatan, panen dan pemasaran produk. Panen pertama pada umur 32 hari setelah tanam sebanyak 40 kg. Setiap 2 hari sekali dilakukan pemanenan dan produk tertinggi tercapai pada panen yang ke-4 sebanyak 1300kg. 
 
Pada saat temu lapang panen sudah dilakukan sebanyak 8 kali dengan total produksi sebanyak 7 ton. Setiap kali panen harga yang diperoleh bervariasi antara Rp 1.200 sampai Rp 2.000 per-kg,-. Diperkirakan panen masih dilakukan hingga 5-6 kali lagi.

Jumat, 06 November 2015

Tips Meningkatkan Produktivitas Ubikayu


Ketahanan dan kemandirian pangan merupakan salah satu tujuan utama program pembangunan pertanian yang digariskan pemerintah. Sasaran yang ingin dicapai meliputi swasembada berkelanjutan padi dan jagung serta kedelai.
Swasembada pangan  berkelanjutan akan lebih terjamin mudah bila didukung oleh diversifikasi pangan. Indonesia  kaya akan sumberdaya pangan  dan tradisi  untuk pengembangan diversifikasi pangan  yang luas dan berkelanjutan.
Salah satu jenis tanaman pangan yang sejak dahulu berperan penting dalam diversifikasi pangan di Indonesia adalah ubikayu. Ubikayu  memiliki potensi besar pula untuk  lebih dikembangkan lagi  sebagai komponen diversifikasi. Di antara alasannya, sebagaimana dikemukakan  Dr. Sholihin, ubikayu  dalam bentuk segar, tepung ataupun pati dapat diolah menjadi beragam jenis makanan. Lagipula, ubikayu ditanam di hampir seluruh provinsi di Indonesia  dengan kondisi lingkungan yang beragam. Namun, itu memerlukan ketersediaan bahan baku ubikayu yang cukup. Sedangkan faktanya sekarang, produktivitas ubikayu di tingkat petani dinilai masih rendah, sekitar 23 ton per hektar.
Menyampaikan makalah tentang  hasil-hasil penelitian ubikayu mendukung swasembada pangan pada seminar Tanaman Pangan di Bogor, peneliti senior dari Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi (Balitkabi), Malang itu  menekankan perlunya upaya meningkatkan produktivitas dan daya saing ubikayu.  Ia optimis karena produktivitas ubikayu di Indonesia sebenarnya masih dapat ditingkatkan, bahkan  ada yang bisa mencapai lebih dari 100 ton/ha. Caranya  tentu saja dengan penggunaan varietas unggul yang sesuai dengan lokasi, bibit yang baik, pemupukan yang sesuai, penyiangan serta pengendalian hama dan penyakit.
Sejak 1978 sudah banyak varietas unggul yang dilepas  dengan keunggulan spesifik masing-masing  termasuk mengenai produktivitas dan kesesuaian penggunaannya. Untuk  kegunaan sebagai ubi rebus, ubi goreng, singkong keju, kerupuk, keripik dan tape ada varietas unggul Litbang UK2, Malang 1, Malang 2, Darul Hidayah danAdira 1. Untuk dijadikan pati, serbuk, tepung, tepung modifikasi, chips dan gaplek  pilihannya bisa jenis yang daging ubinya rasa tidak pahit yakni  varietas Libtang UK2, Adira 1, Malang 1, Malang 2, dan Darul Hidayah. Dapat pula menggunakan varietas yang daging ubinya rasa pahit  yakni Adira 2, Adira 4, Malang 4, Malang 6, UJ 3, danUJ 5. Varietas-varietas unggul tersebut siap pula dimanfaatkan untuk menghasilkan komoditas penting lainnya seperti gula cair dan  bioetanol.
Tidak Rakus Hara
Salah satu penghambat pengembangan produksi ubikayu ialah adanya  pendapat  tumbuhan ini rakus unsur hara.  Merujuk pada laporan penelitian Howeler (2008), Sholihin menegaskan bahwa ubikayu sebenarnya tidak rakus bila dibanding tanaman pangan lainnya. Penghilangan (penyerapan) nutrisi hara nitrogen (N) dari tanah  oleh ubikayu  dengan hasil 35,7 ton/ha (segar) mencapai 55 kg /ha. Angka ini  jauh di bawah kacang tanah (105 kg/ha), jagung (96 kg/ha), di bawah ubijalar (61 kg/ha), padi (60 kg/ha), dan hampir sama dengan gandum (56 kg/ha) dsb. Angka tersebut lebih tinggi dari tebu (43 kg/ha).
Penghilangan nutrisi hara Phospat (P) ubikayu tersebut di atas mencapai 13,2 kg/ha, lebih rendah dibanding  tebu (20,2 kg/ha), jagung (17,4 kg/ha), hampir sama dengan ubijalar (13,3 kg/ha), dan lebih tinggi dari gandum (12 kg/ha), padi (7,5 kg/ha), kacang tanah (6,5 kg/ha).
Penghilangan nutrisi yang menonjol oleh ubikayu adalah pada hara kalium (K) sebesar 112 kg/ha, lebih tinggi dari ubijalar (97 kg/ha), tebu (96 kg/ha), jauh lebih tinggi dibanding kacang tanah (35 kg/ha), jagung (26 kg/ha), padi dan gandum (masing-masing 13 kg/ha).
Data tentang penyerapan nutrisi dari tanah dapat digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam kebijakan  aplikasi pemupukan. Pemberian pupuk bersifat spesifik lokasi bergantung varietas, jenis tanah, kandungan hara serta kondisi alam serta sistem pertanaman. 
Laporan dari satu percobaan yang dilakukan menunjukkan bahwa perlakuan tanpa pupuk K memberikan hasil ubikayu terendah. Laporan lain menyebutkan penambahan pupuk organik yakni pupuk kandang dapat meningkatkan hasil ubikayu. Lainnya menyebutkan dampak positip sistem tumpangsari.
Varietas Malang 6 dilaporkan oleh Sholihin dkk  (2010) dapat memberi hasil lebih dari 100 ton/ha pada jarak pertanaman 1,25 x 1,25 m, dibumbun, dipupuk dengan 500 kg Ponska + 300 kg urea + 5-10 ton pupuk kandang per hektar.  Pada penanaman di tanah alfisol di Gunung Kidul, hasil ubikayu dapat meningkat 2-3 kali lipat oleh sistem tumpangsari dengan kacang tanah dan pemberian pupuk urea 150 kg + pupuk Za 100 kg/ha untuk ubikayu dan 25 kg urea untuk kacang tanah.
Tanam Tepat Waktu
Dua musuh utama tanaman ubikayu adalah hama tungau merah (Tetranycchus bimaculatis) dan penyakit busuk akar/ubi (root rot). Serangan tungau merah dapat menyebabkan kehilangan hasil ubikayu sampai 95%. Penyakit busuk akar dapat menyebabkan tanaman tumbuh kerdil dan tidak menghasilkan ubi.
Dua jenis penyakit busuk akar adalah  busuk basah dan busuk kering. Busuk basah disebabkan  jamur-jamur tanah seperti Fusarium sp, Phytopthora drechsleri dsb., sedangkan busuk kering disebabkan mikroba Sigidoporus lignosus dll. Fusarium dapat menyerang  ubi sejak awal hingga masak panen dan terbawa ke tempat penyimpanan  sehingga menyebabkan penyakit pasca panen.
Untuk menghindari  serangan tungau merah, dianjurkan agar menanam ubikayu yang  lebih tahan.  Di antara klon yang tahan tungau merah adalah Adira 4. Yang agak tahan adalah Litbang UK2, UJ 5, CMM 99008-3, MLG 10311, MLG 10032, MLG 10033, CMM 03069-6, dan CMM 03008-11.
Menghadapi busuk ubi oleh Fusarium perlu upaya khusus  menjaga drainase lahan yang cukup baik. Varietas tahan Fusarium memang masih jarang. Yang tahan adalah Adira. Yang  agak tahan adalah Litbang UK2 dan UJ 5.
Untuk lebih mendukung keberhasilan  produksi, diingatkan bahwa momen tanam yang ideal adalah secepat mungkin ketika hujan sudah mulai turun. Begitu hujan mulai, ubikayu langsung ditanam. Bila hujan sudah berlanjut baru ditanam, tanah sudah akan mulai asam sehingga pertumbuhan akar tidak sempurna.  Olson PS

Teknologi Pemanfaatan Sampah Rumah Tangga Menjadi Kompos


Disekeliling kita bahan baku pupuk organik yang berasal dari sampah rumah tangga ternyata cukup besar. Sumber terbanyak berasal dari lokasi rumah tangga dan pasar tradisional.  Untuk sampah pasar sebagian besar komposisinya (95%) berupa sampah organik, sedang sampah yang berasal dari rumah tangga minimal terdiri sampah organic (75%) dan sisanya anorganik.  Untuk memanfaatkan sampah rumah tangga tsb,
BPTP Jawa Timur melaksanakan Pengkajian Produksi dan Pemanfaatan Limbah Organik dari Sampah Rumah Tangga dengan menggunakan berbagai macam dekomposer. Dekomposer yang dicobakan yaitu  Promi, SuperDegra, dan EM-4 dan dilakukan juga analisis kimia Kimia Bahan Organik dari Sampah Rumah Tangga dengan Menggunakan Berbagai Macam dekomposer tersebut (Tabel 1).
Tabel 2.   Hasil Aanalisis Kimia Bahan Organik Berbahan Baku Sampah Rumah Tangga dengan Menggunakan Berbagai Macam Dekomposer (4 – 5 Minggu Setelah Inkubasi)
No.
 
 
Perlakuan
 
 
Analisis
 
 
pH
 
 
C-organik
 
 
N-total
 
 
C/N ratio
 
 
 
P2O5
 
 
K2O
 
 
Na
 
 
Ca
 
 
Mg
 
 
(%)
 
 
(%)
 
 
(%)
 
 
(%)
 
 
1.
 
 
Sampah rumah tangga + BioSun
 
 
8,2
 
 
 15,56
 
 
1,51
 
 
11,88
 
 
0,98
 
 
1,28
 
 
0,54
 
 
3,18
 
 
0,47
 
 
2.
 
 
Sampah rumah tangga + SuperDegra
 
 
6,9
 
 
10,16
 
 
0,64
 
 
15,88
 
 
2,89
 
 
0,41
 
 
0,07
 
 
2,93
 
 
0,29
 
 
3.
 
 
Sampah rumah tangga + Promi
 
 
8,4
 
 
18,17
 
 
1,57
 
 
13,56
 
 
1,09
 
 
1,39
 
 
0,48
 
 
4,06
 
 
0,58
 
 
4.
 
 
Sampah rumah tangga + EM-4
 
 
8,3
 
 
15,41
 
 
1,56
 
 
12,04
 
 
1,06
 
 
1,67
 
 
0,48
 
 
4,86
 
 
0,83
 
 
5.
 
 
Sampah rumah SuperDegra + pupuk kandang + dedak + tetes
 
 
8,3
 
 
10,61
 
 
0,58
 
 
18,29
 
 
3,24
 
 
0,42
 
 
0,06
 
 
3,31
 
 
0,28
 
 
6.
 
 
Sampah rumah tangga + Promi +   pupuk kandang + dedak + tetes
 
 
8,0
 
 
18,89
 
 
1,29
 
 
17,33
 
 
1,09
 
 
1,22
 
 
0,46
 
 
5,33
 
 
0,63
 
 
7.
 
 
Sampah rumah tangga + EM-4 + pupuk kandang + dedak + tetes
 
 
7,9
 
 
18,11
 
 
1,29
 
 
16,46
 
 
1,05
 
 
1,17
 
 
0,41
 
 
4,50
 
 
0,5