Selasa, 11 November 2014

Pengendalian Terpadu Penyakit Kudis (Sphaceloma batatas Saw.) pada Ubijalar

Ubijalar merupakan tanaman pangan kelompok umbi-umbian ke dua setelah ubikayu. Selain karbohidrat, ubijalar banyak mengandung vitamin, mineral, dan serat yang bermanfaat bagi kesehatan. Sebagaimana tanaman lain, terdapat lebih kurang 20 patogen jamur, bakteri dan virus yang menyerang pertanaman ubijalar di lapang maupun pada umbi dalam simpanan. Diantara penyakit-penyakit tersebut, salah satu penyakit yang penting adalah penyakit kudis yang disebabkan oleh jamur  Sphaceloma batatas Saw. Di Indonesia penyakit kudis tersebar di sentra produksi ubijalar di Jawa, Bali, Sumatera dan Papua. Kehilangan hasil akibat penyakit kudis bervariasi tergantung varietas yang ditanam, umur tanaman saat terinfeksi, dan kondisi lingkungan yang berpengaruh terhadap perkembangan penyakit di lapang.

Gambar 1. A. Gejala kudis pada tulang daun, B. Gejala kudis pada tangkai daun dan batang, C. Gejala kudis pada tunas

Gejala karakteristik penyakit ini adalah berupa luka kecil seperti kudis yang berwarna coklat pada daun, tangkai daun dan batang. Luka seperti kudis pada daun umumnya terdapat sepanjang tulang daun. Pada tangkai daun dan batang, ukuran luka lebih panjang dibandingkan kudis pada daun. Di lapang, infeksi terutama terjadi pada saat daun masih muda dimulai dengan gejala awal berupa bercak klorotik, yang pada akhirnya berkembang menjadi luka berbentuk bulat oval. Adanya luka pada tulang daun mengakibatkan pertumbuhan daun menjadi tidak normal, ukuran daun mengecil dan berkerut. Tangkai daun menjadi lebih pendek dibandingkan pada kondisi normal dan memutar. Gejala khas lainnya adalah tunas tumbuh tegak sehingga adanya serangan penyakit kudis tersebut dapat diketahui secara cepat dari kejauhan. Pada kultivar yang rentan, misal varietas lokal IR-Melati titik tumbuh mati, sebaliknya pada varietas yang tahan (Sari) infeksi hanya terjadi pada tangkai daun bagian atas, dan tulang daun bagian bawah.

Diunggah ulang dari sumber asal : Balitkabi Jl. Raya Kendalpayak km 8, PO Box 66 Malang 65101, Indonesia

 Baca Juga :
- Hidroponik
- Menjaga Kwalitas Rimpang Temulawak

Senin, 03 November 2014

Hidroponik, Cara dan Seluk-beluknya (Tekno KRPL)


Lahan Anda sempit, air terbatas, dan malas menyiram satu per satu tanaman dalam pot? Hidroponiklah jawabannya. Karena sifatnya yang praktis itulah, sistem hidroponik akan dikenalkan dalam Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL) BPTP Jatim. Hal itu mengingat banyak rumah tangga pelaku KRPL mengeluhkan kesulitan air dan kerepotan dalam menyiram tanaman dalam pot/polibag.
Pada prinsipnya, hidroponik adalah budidaya tanaman tanpa tanah. Cukup banyak sistem yang berkembang, baik oleh pebisnis maupun para hobiis. Berikut akan dijelaskan secara singkat cara pembuatan hidroponik sistem ‘Lapisan hara tipis (NFT = nutrient film technique)’.
Untuk memproduksi sayur daun kira-kira 160 tanaman, diperlukan bahan: pipa paralon 3” sebanyak 4 batang, keni L 3” 8 buah, bak air 40 liter, 1 set pompa listrik akuarium, gelas plastik bekas sebanyak 160 buah, rajangan batang pohon pakis dan pupuk NPK.
Lubangi paralon sebesar bibir gelas plastik bekas, dengan jarak antar lubang 10 cm. Setelah itu pasang paralon, keni, dan pompa listrik akuarium seperti diragakan pada gambar di bawah.
Cara tanamnya, isi gelas plastik bekas dengan rajangan pohon pakis sepertiganya, letakkan benih sayur daun di atasnya, tutup kembali dengan rajangan pohon pakis kira-kira 1 cm. Jadi, kita tidak perlu repot-repot membuat pembibitan terlebih dahulu.
Masukkan gelas tadi ke dalam lubang pada paralon yang sudah dipasang di atas. Kemudian, larutkan pupuk NPK dengan konsentrasi 1-2 g/liter air, masukkan ke dalam bak penampung sampai di atas pompa listrik akuarium. Hidupkan pompa, dan jadilah.
Air dalam bak penampung harus selalu di atas pompa, agar pompa tidak panas dan cepat rusak. Oleh karena itu, setiap hari harus dikontrol dan ditambah larutan pupuk NPK jika permukaan larutan mulai di bawah pompa. Dalam kondisi yang cukup panas, larutan yang ditambahkan tidak lebih dari 15 liter per hari.
Beberapa catatan tambahan yang perlu diperhatikan:
1.Untuk penghematan, paralon bisa diganti dengan talang plastik “U”. Untuk meletakkan gelas bekas yang sudah diisi media tanam dan benih, gunakan gabus (sterefoam) sebagai penutup talang. Lalu buat lubang sebagaimana pada penggunaan paralon di atas. Untuk daerah perdesaan dapat digunakan bahan-bahan lain, misalnya bambu
2.Kunci keberhasilan terpenting hidroponik terletak pada penggunaan pupuk. Pupuk khusus untuk hidroponik sudah banyak dijual di pasaran. Pada contoh di atas digunakan NPK semata hanya untuk mudahnya saja. Pupuk hidroponik biasanya berbeda antara sayuran daun dengan sayur buah
3.Model yang dicontohkan di atas hanya dianjurkan untuk sayur daun, tetapi bisa juga ditanami sayur buah (cabe, tomat, terung, dll.) asalkan jangan terlalu banyak, cukup di ujung-ujung rangkaian paralon saja
4.Media tanam dari rajangan pohon pakis dapat digantikan dengan bahan-bahan lain, misalnya arang sekam, kerikil halus, atau lainnya. Berdasarkan pengalaman, penggunaan rajangan pohon pakis mempunyai efek yang baik terhadap tanaman
5.Pemasangan paralon harus cukup datar, agar aliran air (yang sudah dicampur pupuk) tidak mengalir terlalu cepat. Ketinggian air mencelup gelas cukup 1-2 cm. (SH)

Baca Juga :
- Menjaga Kwalitas Rimpang Temulawak
- Kembung Perut pada Kambing dan Cara Pengendaliannya

Selasa, 28 Oktober 2014

PELATIHAN MULTI MEDIA BAGI PETANI



PENYULUHAN konvensional melalui tatap muka antara petugas dengan petani memang masih relevan dan efektif. Namun seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi, penyuluhan pertanian lewat dunia maya juga menjadi suatu kebutuhan. Menyadari hal tersebut, untuk menyiapkan pelaksanaan cyber extension (penyuluhan lewat internet), Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3) Kabupaten Kediri melatih 20 orang petani yang merupakan perwakilan dari Kecamatan Pare, Badas, Kepung, Kandangan dan Puncu. Pelatihan dilaksanakan selama 3 hari, tanggal 27 sampai 29 Oktober 2014 di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kec. Pare untuk penyampaian teori, dan praktek selama 2 hari di Tera.net Desa Tulungrejo Kec. Pare.

Tujuan pelatihan adalah memberikan bekal kepada petani untuk memanfaatkan jaringan internet dalam mengakses informasi pertanian. “Terlebih pada tahun-tahun yang akan datang kita dihadapkan pada pasar global yang menuntut kita untuk berkomunikasi secara global pula. Tidak kalah pentingnya adalah memasarkan produk lokal ke pasar internasional sehingga pertanian kita tidak terpuruk karena kesenangan kita yang konsumtif produk luar”, demikian yang disampaikan Kepala Bidang Penyelenggaraan Pertanian Bapak Susanto, SP. pada acara pembukaan pelatihan.

Selama tiga hari, peserta pelatihan mendapatkan materi Kebijakan Pembangunan Pertanian Kab. Kediri, Teknologi – Informasi Pertanian, Dasar-dasar Microsoft Office, Membuat Akun Surat Elektronik, Cara Mengakses e-Petani dan Cybex Kementan RI dan penugasan browsing materi pertanian yang dipandu langsung oleh tim Cybex BKP3 Kab. Kediri.
[Tim Cybex, foto by Pak Tio].

Baca Juga :