Selasa, 28 Oktober 2014

PELATIHAN MULTI MEDIA BAGI PETANI



PENYULUHAN konvensional melalui tatap muka antara petugas dengan petani memang masih relevan dan efektif. Namun seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi, penyuluhan pertanian lewat dunia maya juga menjadi suatu kebutuhan. Menyadari hal tersebut, untuk menyiapkan pelaksanaan cyber extension (penyuluhan lewat internet), Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3) Kabupaten Kediri melatih 20 orang petani yang merupakan perwakilan dari Kecamatan Pare, Badas, Kepung, Kandangan dan Puncu. Pelatihan dilaksanakan selama 3 hari, tanggal 27 sampai 29 Oktober 2014 di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kec. Pare untuk penyampaian teori, dan praktek selama 2 hari di Tera.net Desa Tulungrejo Kec. Pare.

Tujuan pelatihan adalah memberikan bekal kepada petani untuk memanfaatkan jaringan internet dalam mengakses informasi pertanian. “Terlebih pada tahun-tahun yang akan datang kita dihadapkan pada pasar global yang menuntut kita untuk berkomunikasi secara global pula. Tidak kalah pentingnya adalah memasarkan produk lokal ke pasar internasional sehingga pertanian kita tidak terpuruk karena kesenangan kita yang konsumtif produk luar”, demikian yang disampaikan Kepala Bidang Penyelenggaraan Pertanian Bapak Susanto, SP. pada acara pembukaan pelatihan.

Selama tiga hari, peserta pelatihan mendapatkan materi Kebijakan Pembangunan Pertanian Kab. Kediri, Teknologi – Informasi Pertanian, Dasar-dasar Microsoft Office, Membuat Akun Surat Elektronik, Cara Mengakses e-Petani dan Cybex Kementan RI dan penugasan browsing materi pertanian yang dipandu langsung oleh tim Cybex BKP3 Kab. Kediri.
[Tim Cybex, foto by Pak Tio].

Baca Juga :

Rabu, 15 Oktober 2014

Penyakit Potong Leher Dapat Turunkan Panen Padi sampai 70%



Penyakit potong leher atau blas (Pyricularia grisea), semula hanya menjadi masalah pada tanaman padi gogo, tetapi saat ini juga menjadi masalah pada padi sawah. Sudah diketahui pula varietas-varietas unggul baru (VUB) pun ternyata tidak luput dari serangannya. Jika penyakit blas menyerang menjelang panen, dapat menurunkan hasil sampai 70%.
Penyakit blas menginfeksi tanaman padi pada fase vegetatif dan generatif. Pada fase vegetatif, P. grisea  menginfeksi daun disebut blas daun (“leaf blast”). Gejalanya, berupa bercak-bercak berbentuk seperti belah ketupat dengan ujung runcing. Pusat bercak berwarna kelabu atau keputih-putihan dan biasanya mempunyai tepi coklat atau coklat kemerahan.
Serangan pada fase generatif, P. grisea  menginfeksi leher malai yang disebut blas leher (“neck blast”). Akibatnya, ujung tangkai malai menjadi busuk, mudah patah dan gabah hampa. Berdasarkan gejala ini, penyakit blas pada fase generatif lebih dikenal dengan nama potong leher atau busuk leher (“neck rot”) atau penyakit busuk pangkal malai. Penyakit blas pada fase generatif (potong leher) lebih merugikan daripada blas daun (fase vegetatif).
Perkembangan penyakit blas dipicu oleh penanaman varietas padi yang peka, jarak tanam rapat dan pemupukan N tinggi tanpa diimbangi dengan P dan K. Selain itu, penyakit blas tergolong seed born disease (penyakit terbawa biji/benih). Artinya, bila benih dari tanaman terserang patogen blas ditanam, maka tanaman padi yang tumbuh dari benih tersebut sudah membawa patogen blas. Memperhatikan fakta ini, direkomendasikan pengendalian penyakit blas sebagai berikut:
1. Tanam benih sehat. Benih sehat adalah benih yang tidak membawa patogen blas. Benih ini berasal dari tanaman yang tidak terserang patogen blas (tidak bergejala blas, baik daun maupun pangkal malai). Benih sehat juga dapat diperoleh dengan perlakuan benih menggunakan fungisida sistemik seperti Pyroquilon dengan takaran 8 g/kg benih.  Fungisida lain  untuk perlakuan benih adalah Tricyclazole dan Benomyl-T
2. Tanam varietas tahan. Inpari 4, 11, 14 dan Inpari Sidenuk tahan/toleran terhadap penyakit potong leher. Penggunaan VUB ini menurunkan infeksi penyakit potong leher 46-94%, tergantung VUB yang digunakan.
3. Tanam cara jajar legowo. Dengan tanam jajar legowo, kelembaban di pertanaman padi tidak tinggi, dapat menghambat perkembangan penyakit blas.
4. Pemupukan NPK sesuai kandungan hara tanah. Dengan pemupukan NPK sesuai kandungan hara tanah, kebutuhan unsur hara tanaman padi dapat dipenuhi sehingga tanaman padi tumbuh optimal dan dapat mempertahankan diri dari gangguan penyakit blas.
5. Menyemprot tanaman padi dengan fungisida. Fungisida Tricyclazole efektif mengendalikan penyakit blas leher bila disemprotkan pada saat bunting dan berbunga. Fungisida-fungisida lain yang juga efektif adalah Edifenphos, Tetrachlorophthalide, Kasugamycyn, IBP, Isoprotionalane, Thiophanate methyl dan Benomyl + mancozeb.

Para petani padi perlu mewaspadai terutama dua hal. Pertama, masih tingginya curah hujan di musim kemarau tahun ini yang dapat memicu perkembangan penyakit blas. Kedua, ditengara berpindahnya serangan blas dari lahan padi gogo ke padi sawah karena 40% petani masih menggunakan benih hasil panen yang lalu, termasuk dari padi gogonya. (MCM)

Senin, 11 Agustus 2014

PENGENDALIAN PENYAKIT TANAMAN KUNYIT



Penyakit Tanaman Kunyit : 

a. Layu Bakteri Ralstonia (Pseudomonas) solanacearum E.F. Smith

1) Tanaman Inang
Temu-temuan seperti temu mangga, temu putih, jahe, kunyit, kencur, temulawak, bangle, lempuyang, terung-terungan seperti tomat, terung, kentang, cabai, tembakau serta tanaman lainnya seperti nilam dan kacang tanah. Disamping itu juga tanaman baban-dotan, meniran, ceplukan, Commelina sp., nanang-kaan, Spigelia anthelmia, Erechtites sp., dan krokot.

2) Gejala Serangan
Gejala serangan adalah daun menguning dan menggulung, dimulai dari daun yang lebih tua kemudian diikuti daun yang lebih muda, selanjutnya sampai semua helai daun kuning dan akhirnya mati. Pada bagian pangkal batang terlihat gejala cekung basah dan garis-garis hitam atau abu-abu sepanjang batang. Kalau potongan pangkal batang atau rimpang dipijit dengan tangan akan mengeluarkan lender berwarna putih seperti airsusu.

3) Pengendalian
a) Kulturteknis
- Menanam bibit sehat;
- Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang;
- Perbaikan drainase tanah
b) Biologis
- Pemakaian kompos atau agens antagonis seperti Gliocladium sp., Trichoderma sp., atau Pseudomonas fluoresceins, kompos Biotriba dapat menekan serangan penyakit.

b. Busuk Akar Rimpang Sclerotikum rolfsiiSacc.

1) Tanaman Inang
Kunyit, kacang tanah, cabai, terung, jagung, padi, dan temu-temuan.

2) Gejala Serangan
Gejala serangan adalah kulit akar keriput, tunas-tunas muda busuk dan menering berwarna coklat kehitaman. Pada permukaan kulit yang keriput terdapat miselium jamur tipis, berwarna putih, teratur seperti bulu.

3) Pengendalian
a) Kulturteknis
- Menanam bibit sehat;
- Penanaman sebaiknya pada musim kemarau;
- Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang;
- Perbaikan drainase tanah
b) Kimiawi
Penggunaan fungisida nabati cengkeh.
c. Karat Daun Puccinia sp.

1) Tanaman Inang
Kunyit, jahe, temulawak, kencur, temu mangga, pacing (Costus).

2) Gejala Serangan
Gejala serangan ditandai dengan bintik-bintik berbentuk bulat, berwarna coklat kehitaman berukuran 1-6 mm, dikelilingi jaringan berwarna coklat kekuningan. Pada permukaan bawah
ditemukan butir-butir halus berwarna kuning yang merupakan uredospora cendawan. Pada serangan berat, pertumbuhan terganggu sehingga hasil panen menurun.

3) Pengendalian
a) Kulturteknis
- Mengatur jarak tanam agar tidak lembab.

d. Bercak Daun Colletotrichum capsici (Syd)

1) Tanaman Inang
Kunyit dan cabai.

2) Gejala Serangan
Gejala awal berupa bercak bulat berukuran 4-5 cm yang tidak beraturan pinggirnya dikelilingi garis berwarna kekuningan dan bagian tengahnya kering. Pada permukaan bercak terdapat bintik-bintik berwarna hitam tersusun melingkar menyerupai bentuk cincin. Lama kelamaan bercak besar sampai ke permukaan daun mengering dan layu.

3) Pengendalian
a) Kulturteknis
- Benih dari induk sehat;
- Tidak menanam kunyit berturut-turut pada lahan yang sama.
b) Kimiawi
Penggunaan fungisida atau cairan kapur Bordo selama 4-7 hari sampai tidak ada gejala sakit.

e. Busuk Rimpang Rhizoctonia solani Kuhn

1) Tanaman Inang
Kentang, cabai, tomat, kacang panjang, terung, kacang tanah, ubi jalar, kacang hijau, kunyit dan jahe.

2) Gejala Serangan
Perubahan warna pada daun bagian bawah, translokasi hara dan air di dalam jaringan tanaman terhambat, sehingga daun berubah menjadi dari hijau ke kuning dan menjadi layu. Pada serangan berat rimpang menjadi busuk dan batang semu keriput. Pada jaringan pembuluh terlihat garis-garis coklat.

3) Pengendalian
a) Kulturteknis
- Menanam bibit sehat;
- Penanaman sebaiknya pada musim kemarau
- Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang;
Perbaikan drainase tanah
b) Kimiawi
Agens antagonis seperti Trichoderma sp., Gliocladium sp., Pseudomonas fJuorescens, dan Bacillus sp.
Nematoda Akar
Nematoda yang paling merugikan yaitu Radopholus similis, Meloidogyne incognita dan Pratylenchus coffeae.

Penulis : Agus Hariyadi
Email : ahariyadi54@yahoo.com
Sumber : Budidaya Kunyit (Curcuma domestica),Departemen Pertanian, Ditjen Hortikultura, Ditjen Budidaya Tanaman Sayuran & Biofarmaka, Kementan, 2009 , Cybex Kementan, Gambar : www.google.com

Baca juga :
- Menjaga Kwalitas Rimpang Temulawak
- Kembung Perut pada Kambing dan Cara Pengendaliannya
- Teknik Aplikasi Pestisida
- Cabai