Tampilkan postingan dengan label BKP3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BKP3. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Juni 2016

Penggunaan Pestisida Alami Relatif Aman Untuk Mengendalikan Hama Tanaman (Cybex Kementan RI)


Sumber Gambar: dalmadi
Berkembangnya penggunaan pestisida sintesis (menggunakan bahan kimia sintetis) yang dinilai praktis oleh para pencinta tanaman untuk mengobati tanamannya yang terserang hama, ternyata membawa dampak negatif bagi lingkungan sekitar bahkan bagi penggunanya sendiri.
Dampak negatif dari penggunaan pestisida diantaranya adalah meningkatnya daya tahan hama terhadap pestisida, membengkaknya biaya perawatan akibat tingginya harga pestisida dan penggunaan yang salah dapat mengakibatkan racun bagi lingkungan, manusia serta ternak.
Cukup tingginya bahaya dalam penggunaan pestisida sintetis, mendorong usaha untuk menekuni pemberdayaan pestisida alami yang mudah terurai dan tidak mahal. Penyemprotan terhadap hama yang dapat mengakibatkan rasa gatal, pahit rasanya atau bahkan bau yang kurang sedap ternyata dapat mengusir hama untuk tidak bersarang di tanaman yang disemprotkan oleh pestisida alami. Oleh karena itu jangan heran bila penggunaan pestisida alami umumnya tidak mematikan hama yang ada, hanya bersifat mengusir hama dan membuat tanaman yang kita rawat tidak nyaman ditempati.
Bahan yang digunakan pun tidak sulit untuk kita jumpai bahkan tersedia bibit secara gratis. Contohnya seperti tanaman bunga kenikir yang masih dapat di temui ditanah-tanah kosong pada daerah yang cukup tinggi.. Jenis lain yang digunakan pun harus sesuai dengan karakter dari bahan yang akan digunakan serta karakter dari hama yang ada. Seperti peribahasa, tak kenal maka tak sayang, sehingga menjadi: tak kenal bahan dan jenis hama maka tak dapat mengusir dan mengendalikan hama. Bahan lainnya adalah kunyit, sereh, bawang putih, daun jatropa, daun diffen, jenis rempah-rempah dan lainnya.
Dosis yang digunakan pun tidak terlalu mengikat dan beresiko dibandingkan dengan penggunaan pestisida sintesis. Untuk mengukur tingkat keefektifan dosis yang digunakan, dapat dilakukan eksperimen dan sesuai dengan pengalaman pengguna. Jika satu saat dosis yang digunakan tidak mempunyai pengaruh, dapat ditingkatkan hingga terlihat hasilnya. Karena penggunaan pestisida alami relatif aman dalam dosis tinggi sekali pun, maka sebanyak apapun yang diberikan tanaman sangat jarang ditemukan tanaman mati. Yang ada hanya kesalahan teknis, seperti tanaman yang menyukai media kering, karena terlalu sering disiram dan lembab, malah akan memacu munculnya jamur. Kuncinya adalah aplikasi dengan dosis yang diamati dengan perlakuan sesuai dengan karakteristik dan kondisi ideal tumbuh untuk tanamannya.
Selain harus mengenal karakter dari bahan yang akan digunakan, karakter hamanya sendiri pun harus diperhatikan dengan baik. Dengan mencari informasi karakter hidup hama, mendengarkan dari pengalaman orang lain serta mengamati sendiri, kita dapat mencari kelemahan dari hama tersebut. Contohnya untuk kutu yang menempel kuat di batang atau daun dapat diatasi dengan menggunakan campuran sedikit minyak agar kutu tidak dapat menempel. Selain itu, untuk semut yang menyukai cairan manis pada tanaman, dapat disemprotkan air sari dari daun yang sifatnya pahit seperti daun pepaya, daun diffen, dan lainnya.
Berikut beberapa contoh hama dan pestisida alami yang digunakanya:
1. Kutu Putih pada daun atau batang. Dapat digunakan siung bawang putih yang ditumbuk dan diperas airnya serta dicampurkan dengan air sesuai dosis yang diperlukan. Jika kutu melekat erat pada tanaman, dapat digunakan campuran sedikit minyak kelapa. Semprotkan campuran tersebut pada tanaman yang terserang hama.
2. Tikus. Buah jengkol dapat ditebarkan di sekitar tanaman atau di depan lubang sarang tikus. Atau dengan merendam irisan jengkol pada air selama 2 hari. Lalu semprotkan pada tanaman padi yang belum berisi akan menekan serangan walang sangit.
3. Berbagai serangga. Air rebusan cabai rawit yang telah dingin dan dicampur dengan air lagi serta disemprotkan ke tanaman akan mengusir berbagai jenis serangga perusak tanaman.
4. Aphids. Air rebusan dari campuran tembakau dan teh dapat mengendalikan aphid pada tanaman sayuran dan kacang-kacangan. Air hasil rebusan di campurkan kembali dengan air sehingga lebih encer.
5. Berbagai serangga. Air rebusan daun kemangi atau daun pepaya yang kering ataupun yang masih segar, dapat disemprotkan ke tanaman untuk mengendalikan berbagai jenis serangga.
6. Nematoda akar. Dengan menggunakan bunga kenikir (Bunga Tahi Kotok) yang direndamkan oleh air panas mendidih. Biarkan semalam lalu saring. Hasil saringan tersebut disiramkan ke media tanaman. Penting diperhatikan media yang digunakan mudah dilalui oleh air.
7. Mengendalikan serangga, nematoda dan jamur. Dengan membuat air hasil rendaman tumbukan biji nimba dengan air selama tiga hari. Lalu siram pada tanaman, umumnya efektif pada tanaman sayuran.
Penulis : Dalmadi BBP2TP Bogor
Email. dmdl2011@yahoo.com
Sumber Bacaan dan foto : utkampus.net, Data jenis pestisida alami dari berbagai sumber lainnya

Cybex Day with BPP Purwoasri

Manfaat Buah Mundu (Apel Jawa)

Mundu / Apel Jawa

(Garcinia dulcis)

Mundu

Kerajaan:
Divisi:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
G. dulcis
Garcinia dulcis
(Roxb.) Kurz
Mundu atau rata (Garcinia dulcis) adalah :
Sejenis pohon buah-buahan minor (kurang penting) yang asli Indonesia. Buah ini juga biasa disebut apel jawa. Buahnya dapat dimakan segar atau diolah menjadi selai. Mundu tidak sama dengan mundung (menteng), meskipun namanya mirip. Mundu yang semakin langka ditemukan ini merupakan anggota marga Garcinia, sehingga juga berkerabat dekat dengan manggis (Garcinia mangostana) dan asam kandis (Garcinia parvifolia). Mundu dipercaya sebagai tanaman buah asli Indonesia yang hanya tumbuh di Jawa dan sebagian Kalimantan, meskipun tumbuhan ini juga tumbuh di Filipina dan Thailand, dan karena mutu buah ini kurang baik, maka buah ini kurang diremajakan.
Sinopsis :
Tanaman dari jenis manggis-manggisan {Garcinia) merupakan salah satu tumbuhan yang belum didayagunakan secara optimal. Padahal, beberapa jenis Garcinia merupakan penghasil kayu keras dan berharga tinggi, buahnya dapat dimakan, dan bijinya mengandung minyak. Selain itu, beberapa dari tanaman Garcinia digunakan untuk obat. Sebagian besar dari Garcinia di Indonesia masih tumbuh liar di hutan-hutan. Hanya sebagian kecil saja yang dilaporkan telah dibudidayakan di kebun-kebun penduduk di seluruh Indonesia. Salah satunya adalah Mundu (Garcinia duicis).
           Buah Mundu (Garcinia duicis) dapat dimakan langsung dan diolah menjadi selai bahkan sebagai campuran jamu tradisional. Kayu dan kulitnya dipakai sebagai campuran pembuat warna hijau alami. Tumbukan bijinya digunakan untuk mengobati pembengkakan, gondok, dan sariawan. Buah Mundu dipakai sebagai pencahar, antimalaria dan mengobati penderita gangguan empedu. Sedangkan pucuk daun Mundu muda digunakan untuk mengobati diare. Mundu juga dapat digunakan sebagai obat penurun demam, antiinflamasi, dan antipiretik. Selain itu, juga digunakan sebagai obat tradisional untuk struma, parotitis dan antimalaria. Dan masih banyak lagi kegunaan lain dari pohon langka yang sangat baik menyerap air hujan ini.
Buku ini mengupas tuntas khasiat dan manfaat yang ada pada tanaman mundu. Pohon yangsangat jarang kita temui ini ternyata menyimpan kegunaan yang sangat banyak. Namun justru karena itu, peluang bisnis tanaman buah langka si"apel jawa” ini menjadi terbuka lebar. Sumber BPP Purwoasri

Kamis, 16 Juni 2016

Cybex Day with BPP Pare

Pelatihan Teknologi Pengolahan Hasil Peternakan Bagi Ibu-ibu KWT Sinar Gemilang dan PKK Desa Tertek Kecamatan Pare


Desa Tertek, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri disamping potensial dalam pengembangan komuditas tanaman pangan, juga potensial dengan komuditas peternakan. Data Kecamatan Pare Dalam Angka Tahun 2014/2015 jumlah ternak unggas di wilayah Desa Tertek meliputi ternak ayam buras (6.146 ekor), ayam ras petelur (11.000 ekor) dan itik/entok (1.666 ekor). Potensi ternak unggas tersebut perlu dikembangkan olahan hasil peternakan ayam dengan suatu sentuhan teknologi, salah satunya dengan memberikan pelatihan teknologi olahan nugget.

Hasil koordinasi antara Mantri Peternakan, PPL dan Pengurus KWT/PKK Desa Tertek, telah sepakat untuk dilaksanakan kegiatan pelatihan pengolahan hasil peternakan dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu anggota KWT/PKK dalam mengolah hasil peternakan serta meningkatkan nilai tambah dan daya tahan produk hasil peternakan.

Kegiatan pelatihan pengolahan hasil peternakan dilaksanakan di Balai Desa Tertek pada hari Kamis tanggal 19 Mei 2016 atas dukungan program dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Kediri. Kegiatan tersebut dipimpin oleh Kesubdin Peternakan Kab Kediri dan dihadiri pula oleh Kasi Kesos Kecamatan Pare dan Koordinator BPP Kecamatan Pare.

Pada kegiatan pelatihan tersebut ibu-ibu anggota PKK / KWT sebagai peserta pelatihan diberikan materi teknologi pembuatan nugget sebagai makanan padat gizi hasil olahan daging ayam. Narasumber dalam kegiatan ini adalah Ibu Drh. Catur dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Kediri. Beliau menyampaikan tentang keunggulan nugget disamping praktis, mudah dicerna, mudah dibuat, harga terjangkau juga tahan lama jika disimpan dalam bentuk beku. Dan yang terpenting adalah olahan nugget ini mengandung cukup nutrisi berupa protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral.


Bahan dasar pembuatan nugget  adalah :
  • Daging ayam atau hewani lainnya (merupakan sumber protein)
  • Sayuran  antara lain jamur tiram, wortel, bayam, brokoli  (merupakan sumber vitamin dan mineral)
  • Telur (merupakan sumber protein)
  • Tepung terigu dan panir (merupakan sumber karbohidrat)
  • Bumbu 
Resep Nugget Ayam



Bahan :
  • 200 gram daging ayam giling
  • 150 gram wortel
  • 1 butir telur ayam
  • 40 gram tepung terigu
  • 100 gram tepung roti/panir
  • 250 ml minyak untuk menggoreng
  • 40 ml air es
Bumbu :
  • 10 butir bawang merah
  • 10 butir bawang putih
  • Bawang pre secukupnya
  • Bawang bombay secukupnya
  • 1/2 sdt garam
  • 1 sdm gula pasir
  • 1/2 sdt lada bubuk
  • 1/4 sdt pala
Cara Membuat :
  1. Haluskan daging ayam, wortel dan semua bumbu
  2. Campurkan semua bahan
  3. Tambahkan air es dan tepung terigu sampai rata
  4. Letakkan adonan dalam loyang yang telah dilumuri minyak/mentega
  5. Kukus nugget dalam loyang selama 30 menit
  6. Angkat dan dinginkan
  7. Cetak adonan sesuai dengan selera
  8. Olesi nugget dengan telur dan balut dengan tepung panir
  9. Siap digoreng
  10. Jika tidak langsung digoreng bisa disimpan dalam freezer 

Written by : Admin

Cybex Day with BPP Pare

BIOGAS ENERGI ALTERNATIF DI KELOMPOK TANI "TANI MAKMUR" DESA PELEM KECAMATAN PARE KABUPATEN KEDIRI

Energi mempunyai peran penting bagi pembangunan ekonomi nasional, peranannya sangat diperlukan untuk pertumbuhan kegiatan industri, jasa, perhubungan dan rumah tangga. Dalam jangka panjang, peran energi akan lebih berkembang khususnya guna mendukung pertumbuhan sektor industri dan kegiatan lain yang terkait. Meskipun Indonesia adalah salah satu negara penghasil minyak dan gas, namun berkurangnya cadangan minyak, penghapusan subsidi menyebabkan harga minyak naik dan penggunaan bahan bakar fosil yang berlebihan menyebabkan penurunan kualitas lingkungan hidup. Oleh karena itu pemanfaatan sumber-sumber energi alternatif dan ramah lingkungan menjadi suatu alternatif.

Salah satu alternatif adalah pemanfaatan energi biogas yang dapat diperoleh dari hasil prosesing air limbah rumah tangga; kotoran peternakan ayam, sapi, babi; sampah organik; industri makanan, pabrik tapioka, pabrik kelapa sawit, sampah kota dan sebagainya.

Selain potensi yang besar, pemanfaatan energi biogas dengan reaktor biogas memiliki banyak keuntungan, yaitu mengurangi efek gas rumah kaca, mengurangi bau yang tidak sedap, mencegah penyebaran penyakit, menghasilkan panas dan daya (mekanis/listrik) serta hasil samping berupa pupuk padat dan cair. Pemanfaatan limbah dengan cara seperti ini secara ekonomi akan sangat kompetitif seiring naiknya harga bahan bakar minyak dan pupuk anorganik. Di samping itu, prinsip nir limbah (zero waste) merupakan praktik pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.


Pemanfaatan biogas dapat mengurangi emisi gas metana (CH4) yang dihasilkan dalam proses dekomposisi bahan organik yang diproduksi dari sektor pertanian dan peternakan. Dengan menggunakan digester/reaktor kotoran sapi difermentasi menjadi gas metana (biogas). Gas metana termasuk gas yang menimbulkan efek rumah kaca yang menyebabkan terjadinya fenomena pemanasan global, karena gas metana memiliki dampak 21 kali lebih tinggi dibandingkan gas karbondioksida (CO2). Pengurangan gas metana secara lokal ini dapat berperan positif dalam upaya mengatasi masalah global (efek rumah kaca) yang berakibat pada perubahan iklim global.

Biogas adalah campuran gas yang dihasilkan oleh bakteri metanogenik yang terjadi pada material-material yang dapat terurai secara alami dalam kondisi anaerobik. Pada umumnya biogas terdiri atas gas metana (CH4) 50 - 70 %, gas karbondioksida (CO2) 30 - 40 %, hidrogen (H2) 5 - 10 % dan gas-gas lainnya dalam jumlah yang sedikit. Gas metana (CH4) termasuk gas yang menimbulkan efek rumah kaca yang menyebabkan terjadinya fenomena pemanasan global, karena gas metana memiliki dampak 21 kali lebih tinggi dibandingkan gas karbondioksida (CO2). Pengurangan gas metana secara lokal ini dapat berperan positif dalam upaya mengatasi masalah global (efek rumah kaca) yang berakibat pada perubahan iklim global. Biogas kira-kira memiliki berat 20 % lebih ringan dibandingkan udara dan memiliki suhu pembakaran antara 650 - 750ºC. Biogas tidak berbau dan berwarna yang apabila dibakar akan menghasilkan nyala api biru cerah seperti gas LPG. Nilai kalor gas metana adalah 20 MJ/m3
Tabel 1. Jumlah ternak yang diperlukan untuk produksi biogas
NO.
JENIS TERNAK
JUMLAH (EKOR)
POTENSI BIOGAS
1.
Ruminansia besar
2
Menghasilkan biogas
setara minyak tanah 
1,23 liter/hari
2.
Ruminansia kecil
36
3.
Kuda
3
4.
Babi
15
5.
Unggas
363

Pada pertengahan bulan November 2015, di Desa Pelem, tepatnya di wilayah kelompok tani ternak "Tani Makmur" Dusun Ngeblek telah membangun instalasi biogas dari kotoran ternak sapi. Proses pengerjaannya selama ± 10 hari. 


Dasar–dasar yang perlu diperhatikan dalam membuat instalasi biogas diantaranya :

1. Lokasi Bangunan

Usahakan letak bangunan instalasi biogas berada di lahan yang permukaan air tanahnya lebih dari 2 meter, hal ini dimaksudkan untuk menghindari adanya air tanah masuk ke ruang pembentukan biogas (digester/reaktor). Usahakan lokasi instalasi biogas tidak jauh dari kandang dan tempat pemanfaatan biogas.

2. Ruang Proses Pembentukan Biogas harus Kedap Air dan Udara
  • Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat bangunan instalasi biogas (batu bata, pasir, semen, split) harus bebas dari tanah dan kotoran lainnya.
  • Proses pembuatan bangunan diperlukan ketelitian dan kesabaran.
  • Hindari batu merah retak untuk pembuatan bangunan instalasi.
  • Membuat campuran adonan cor (semen dan pasir) harus sedikit demi sedikit sesuai kebutuhan dan pengadukan dilakukan di tempat yang bersih.
  • Batu bata harus utuh, untuk menghemat, pemasangan batu bata disusun miring.
  • Pemasangan batu bata untuk dinding reaktor yang berbentuk kubah, diperlukan perbandingan adonan pasir dan semen.
Pada pembangunan instalasi biogas di wilayah kelompok tani ternak "Tani Makmur" Desa Pelem menggunakan model kubah diameter 3,5 meter. Instalasi tersebut memerlukan 1500 buah batu bata merah, 25 sak semen, dan dua rit pasir. Setiap 6 hari sekali dilakukan pengisian kotoran ternak sapi sebanyak 2 blung ( setiap blung ± 40 kg) yang telah dicampur air dengan perbandingan 2:1. 

Supeno, Sang Ketua Kelompok mengatakan bahwa biogas ini sangat hemat. Biasanya dalam 3-4 hari untuk keperluan memasak menghabiskan 1 tabung gas elpiji 3 kg. Kini setelah menggunakan biogas sama sekali tidak menggunakan elpiji. Ditambah untuk penerangan dapurnya juga menggunakan lampu petromak dari biogas. Saat ini telah melayani 3 rumah tangga untuk keperluan memasak sebagai pengganti elpiji.

Pemanfaatan Lumpur Keluaran Instalasi Biogas

Lumpur keluaran dari instalasi biogas dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organik dalam bentuk padat dan cair. Padatan dalam bentuk basah atau kering dapat dimanfaatkan langsung untuk pupuk karena sudah mengalami dekomposisi selama proses fermentasi di dalam digester/reaktor, bahkan mikro organisme yang bersifat pathogen hanya dalam jumlah yang sangat kecil sehingga padatan ini sangat baik untuk media tanam jamur atau pembibitan tanaman.

Salah satu Kontak Tani sebagai Ketua Kelompok Tani "Tani Makmur" ( Bpk. Supeno ) Desa Pelem Kecamatan Pare telah mecoba kreatifitasnya dengan memanfaatkan limbah peternakannya untuk diproses agar bisa menghasilkan biogas. Kreatifitasnya telah mendapatkan hasil, sehingga biogas dapat dimanfaatkan untuk kompor dan lampu petromak.



Berikut foto pembuatan biogas dari kelompok tani "Tani Makmur" Desa Pelem Kecamatan Pare.





Referensi : 
http://www.academia.edu/12269686/DESAIN_ALAT_BIOGAS_DARI_KOTORAN_SAPI_SKALA_RUMAH_TANGGA

Jumat, 27 November 2015

Cybex Day

BPP Pare
Temu lapang Agribisnis Timun (Hortikultura) di Poktan Sido Makmur Desa Tertek, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri 


Dalam rangka meningkatkan kapasitas  BPP, maka BPP Kecamatan Pare Kabupaten Kediri telah melaksanakan demplot agribisnis hortikultura dengan komuditas timun. Kegiatan tersebut ditindak-lanjuti dengan kegiatan temu lapang yang diselenggarakan bekerjasama dengan PT Agricon. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 4 November 2015 di lahan Bapak Sugiono selaku petani demonstrator. Hadir dalam kegiatan ini antara lain para petani sekitar, Penyuluh Pertanian, Penyuluh Pertanian Swasta dan Babinsa yang secara keseluruhan dapat memanfaatkan media demplot dan temu lapang.
Tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan temu lapang ini adalah membuka kesempatan bagi petani sekitar untuk mendapatkan informasi tentang teknologi yang diterapkan dalam demplot serta menjalin hubungan yang lebih akrab antara petani dengan petugas baik dinas maupun swasta. Demplot Timun dilaksanakan pada lahan seluas 0,14 Ha ( 100 Ru ). 
Kegiatan demplot di awali dengan CPCL dan survey lahan. Sedangkan kegiatan agribisnis meliputi perencanaan, penyediaan agro-input, pengolahan lahan, perawatan, panen dan pemasaran produk. Panen pertama pada umur 32 hari setelah tanam sebanyak 40 kg. Setiap 2 hari sekali dilakukan pemanenan dan produk tertinggi tercapai pada panen yang ke-4 sebanyak 1300kg. 
 
Pada saat temu lapang panen sudah dilakukan sebanyak 8 kali dengan total produksi sebanyak 7 ton. Setiap kali panen harga yang diperoleh bervariasi antara Rp 1.200 sampai Rp 2.000 per-kg,-. Diperkirakan panen masih dilakukan hingga 5-6 kali lagi.

Jumat, 06 November 2015

Tips Meningkatkan Produktivitas Ubikayu


Ketahanan dan kemandirian pangan merupakan salah satu tujuan utama program pembangunan pertanian yang digariskan pemerintah. Sasaran yang ingin dicapai meliputi swasembada berkelanjutan padi dan jagung serta kedelai.
Swasembada pangan  berkelanjutan akan lebih terjamin mudah bila didukung oleh diversifikasi pangan. Indonesia  kaya akan sumberdaya pangan  dan tradisi  untuk pengembangan diversifikasi pangan  yang luas dan berkelanjutan.
Salah satu jenis tanaman pangan yang sejak dahulu berperan penting dalam diversifikasi pangan di Indonesia adalah ubikayu. Ubikayu  memiliki potensi besar pula untuk  lebih dikembangkan lagi  sebagai komponen diversifikasi. Di antara alasannya, sebagaimana dikemukakan  Dr. Sholihin, ubikayu  dalam bentuk segar, tepung ataupun pati dapat diolah menjadi beragam jenis makanan. Lagipula, ubikayu ditanam di hampir seluruh provinsi di Indonesia  dengan kondisi lingkungan yang beragam. Namun, itu memerlukan ketersediaan bahan baku ubikayu yang cukup. Sedangkan faktanya sekarang, produktivitas ubikayu di tingkat petani dinilai masih rendah, sekitar 23 ton per hektar.
Menyampaikan makalah tentang  hasil-hasil penelitian ubikayu mendukung swasembada pangan pada seminar Tanaman Pangan di Bogor, peneliti senior dari Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi (Balitkabi), Malang itu  menekankan perlunya upaya meningkatkan produktivitas dan daya saing ubikayu.  Ia optimis karena produktivitas ubikayu di Indonesia sebenarnya masih dapat ditingkatkan, bahkan  ada yang bisa mencapai lebih dari 100 ton/ha. Caranya  tentu saja dengan penggunaan varietas unggul yang sesuai dengan lokasi, bibit yang baik, pemupukan yang sesuai, penyiangan serta pengendalian hama dan penyakit.
Sejak 1978 sudah banyak varietas unggul yang dilepas  dengan keunggulan spesifik masing-masing  termasuk mengenai produktivitas dan kesesuaian penggunaannya. Untuk  kegunaan sebagai ubi rebus, ubi goreng, singkong keju, kerupuk, keripik dan tape ada varietas unggul Litbang UK2, Malang 1, Malang 2, Darul Hidayah danAdira 1. Untuk dijadikan pati, serbuk, tepung, tepung modifikasi, chips dan gaplek  pilihannya bisa jenis yang daging ubinya rasa tidak pahit yakni  varietas Libtang UK2, Adira 1, Malang 1, Malang 2, dan Darul Hidayah. Dapat pula menggunakan varietas yang daging ubinya rasa pahit  yakni Adira 2, Adira 4, Malang 4, Malang 6, UJ 3, danUJ 5. Varietas-varietas unggul tersebut siap pula dimanfaatkan untuk menghasilkan komoditas penting lainnya seperti gula cair dan  bioetanol.
Tidak Rakus Hara
Salah satu penghambat pengembangan produksi ubikayu ialah adanya  pendapat  tumbuhan ini rakus unsur hara.  Merujuk pada laporan penelitian Howeler (2008), Sholihin menegaskan bahwa ubikayu sebenarnya tidak rakus bila dibanding tanaman pangan lainnya. Penghilangan (penyerapan) nutrisi hara nitrogen (N) dari tanah  oleh ubikayu  dengan hasil 35,7 ton/ha (segar) mencapai 55 kg /ha. Angka ini  jauh di bawah kacang tanah (105 kg/ha), jagung (96 kg/ha), di bawah ubijalar (61 kg/ha), padi (60 kg/ha), dan hampir sama dengan gandum (56 kg/ha) dsb. Angka tersebut lebih tinggi dari tebu (43 kg/ha).
Penghilangan nutrisi hara Phospat (P) ubikayu tersebut di atas mencapai 13,2 kg/ha, lebih rendah dibanding  tebu (20,2 kg/ha), jagung (17,4 kg/ha), hampir sama dengan ubijalar (13,3 kg/ha), dan lebih tinggi dari gandum (12 kg/ha), padi (7,5 kg/ha), kacang tanah (6,5 kg/ha).
Penghilangan nutrisi yang menonjol oleh ubikayu adalah pada hara kalium (K) sebesar 112 kg/ha, lebih tinggi dari ubijalar (97 kg/ha), tebu (96 kg/ha), jauh lebih tinggi dibanding kacang tanah (35 kg/ha), jagung (26 kg/ha), padi dan gandum (masing-masing 13 kg/ha).
Data tentang penyerapan nutrisi dari tanah dapat digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam kebijakan  aplikasi pemupukan. Pemberian pupuk bersifat spesifik lokasi bergantung varietas, jenis tanah, kandungan hara serta kondisi alam serta sistem pertanaman. 
Laporan dari satu percobaan yang dilakukan menunjukkan bahwa perlakuan tanpa pupuk K memberikan hasil ubikayu terendah. Laporan lain menyebutkan penambahan pupuk organik yakni pupuk kandang dapat meningkatkan hasil ubikayu. Lainnya menyebutkan dampak positip sistem tumpangsari.
Varietas Malang 6 dilaporkan oleh Sholihin dkk  (2010) dapat memberi hasil lebih dari 100 ton/ha pada jarak pertanaman 1,25 x 1,25 m, dibumbun, dipupuk dengan 500 kg Ponska + 300 kg urea + 5-10 ton pupuk kandang per hektar.  Pada penanaman di tanah alfisol di Gunung Kidul, hasil ubikayu dapat meningkat 2-3 kali lipat oleh sistem tumpangsari dengan kacang tanah dan pemberian pupuk urea 150 kg + pupuk Za 100 kg/ha untuk ubikayu dan 25 kg urea untuk kacang tanah.
Tanam Tepat Waktu
Dua musuh utama tanaman ubikayu adalah hama tungau merah (Tetranycchus bimaculatis) dan penyakit busuk akar/ubi (root rot). Serangan tungau merah dapat menyebabkan kehilangan hasil ubikayu sampai 95%. Penyakit busuk akar dapat menyebabkan tanaman tumbuh kerdil dan tidak menghasilkan ubi.
Dua jenis penyakit busuk akar adalah  busuk basah dan busuk kering. Busuk basah disebabkan  jamur-jamur tanah seperti Fusarium sp, Phytopthora drechsleri dsb., sedangkan busuk kering disebabkan mikroba Sigidoporus lignosus dll. Fusarium dapat menyerang  ubi sejak awal hingga masak panen dan terbawa ke tempat penyimpanan  sehingga menyebabkan penyakit pasca panen.
Untuk menghindari  serangan tungau merah, dianjurkan agar menanam ubikayu yang  lebih tahan.  Di antara klon yang tahan tungau merah adalah Adira 4. Yang agak tahan adalah Litbang UK2, UJ 5, CMM 99008-3, MLG 10311, MLG 10032, MLG 10033, CMM 03069-6, dan CMM 03008-11.
Menghadapi busuk ubi oleh Fusarium perlu upaya khusus  menjaga drainase lahan yang cukup baik. Varietas tahan Fusarium memang masih jarang. Yang tahan adalah Adira. Yang  agak tahan adalah Litbang UK2 dan UJ 5.
Untuk lebih mendukung keberhasilan  produksi, diingatkan bahwa momen tanam yang ideal adalah secepat mungkin ketika hujan sudah mulai turun. Begitu hujan mulai, ubikayu langsung ditanam. Bila hujan sudah berlanjut baru ditanam, tanah sudah akan mulai asam sehingga pertumbuhan akar tidak sempurna.  Olson PS

Teknologi Pemanfaatan Sampah Rumah Tangga Menjadi Kompos


Disekeliling kita bahan baku pupuk organik yang berasal dari sampah rumah tangga ternyata cukup besar. Sumber terbanyak berasal dari lokasi rumah tangga dan pasar tradisional.  Untuk sampah pasar sebagian besar komposisinya (95%) berupa sampah organik, sedang sampah yang berasal dari rumah tangga minimal terdiri sampah organic (75%) dan sisanya anorganik.  Untuk memanfaatkan sampah rumah tangga tsb,
BPTP Jawa Timur melaksanakan Pengkajian Produksi dan Pemanfaatan Limbah Organik dari Sampah Rumah Tangga dengan menggunakan berbagai macam dekomposer. Dekomposer yang dicobakan yaitu  Promi, SuperDegra, dan EM-4 dan dilakukan juga analisis kimia Kimia Bahan Organik dari Sampah Rumah Tangga dengan Menggunakan Berbagai Macam dekomposer tersebut (Tabel 1).
Tabel 2.   Hasil Aanalisis Kimia Bahan Organik Berbahan Baku Sampah Rumah Tangga dengan Menggunakan Berbagai Macam Dekomposer (4 – 5 Minggu Setelah Inkubasi)
No.
 
 
Perlakuan
 
 
Analisis
 
 
pH
 
 
C-organik
 
 
N-total
 
 
C/N ratio
 
 
 
P2O5
 
 
K2O
 
 
Na
 
 
Ca
 
 
Mg
 
 
(%)
 
 
(%)
 
 
(%)
 
 
(%)
 
 
1.
 
 
Sampah rumah tangga + BioSun
 
 
8,2
 
 
 15,56
 
 
1,51
 
 
11,88
 
 
0,98
 
 
1,28
 
 
0,54
 
 
3,18
 
 
0,47
 
 
2.
 
 
Sampah rumah tangga + SuperDegra
 
 
6,9
 
 
10,16
 
 
0,64
 
 
15,88
 
 
2,89
 
 
0,41
 
 
0,07
 
 
2,93
 
 
0,29
 
 
3.
 
 
Sampah rumah tangga + Promi
 
 
8,4
 
 
18,17
 
 
1,57
 
 
13,56
 
 
1,09
 
 
1,39
 
 
0,48
 
 
4,06
 
 
0,58
 
 
4.
 
 
Sampah rumah tangga + EM-4
 
 
8,3
 
 
15,41
 
 
1,56
 
 
12,04
 
 
1,06
 
 
1,67
 
 
0,48
 
 
4,86
 
 
0,83
 
 
5.
 
 
Sampah rumah SuperDegra + pupuk kandang + dedak + tetes
 
 
8,3
 
 
10,61
 
 
0,58
 
 
18,29
 
 
3,24
 
 
0,42
 
 
0,06
 
 
3,31
 
 
0,28
 
 
6.
 
 
Sampah rumah tangga + Promi +   pupuk kandang + dedak + tetes
 
 
8,0
 
 
18,89
 
 
1,29
 
 
17,33
 
 
1,09
 
 
1,22
 
 
0,46
 
 
5,33
 
 
0,63
 
 
7.
 
 
Sampah rumah tangga + EM-4 + pupuk kandang + dedak + tetes
 
 
7,9
 
 
18,11
 
 
1,29
 
 
16,46
 
 
1,05
 
 
1,17
 
 
0,41
 
 
4,50
 
 
0,5