Tampilkan postingan dengan label sinar tani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sinar tani. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 November 2015

Tips Meningkatkan Produktivitas Ubikayu


Ketahanan dan kemandirian pangan merupakan salah satu tujuan utama program pembangunan pertanian yang digariskan pemerintah. Sasaran yang ingin dicapai meliputi swasembada berkelanjutan padi dan jagung serta kedelai.
Swasembada pangan  berkelanjutan akan lebih terjamin mudah bila didukung oleh diversifikasi pangan. Indonesia  kaya akan sumberdaya pangan  dan tradisi  untuk pengembangan diversifikasi pangan  yang luas dan berkelanjutan.
Salah satu jenis tanaman pangan yang sejak dahulu berperan penting dalam diversifikasi pangan di Indonesia adalah ubikayu. Ubikayu  memiliki potensi besar pula untuk  lebih dikembangkan lagi  sebagai komponen diversifikasi. Di antara alasannya, sebagaimana dikemukakan  Dr. Sholihin, ubikayu  dalam bentuk segar, tepung ataupun pati dapat diolah menjadi beragam jenis makanan. Lagipula, ubikayu ditanam di hampir seluruh provinsi di Indonesia  dengan kondisi lingkungan yang beragam. Namun, itu memerlukan ketersediaan bahan baku ubikayu yang cukup. Sedangkan faktanya sekarang, produktivitas ubikayu di tingkat petani dinilai masih rendah, sekitar 23 ton per hektar.
Menyampaikan makalah tentang  hasil-hasil penelitian ubikayu mendukung swasembada pangan pada seminar Tanaman Pangan di Bogor, peneliti senior dari Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi (Balitkabi), Malang itu  menekankan perlunya upaya meningkatkan produktivitas dan daya saing ubikayu.  Ia optimis karena produktivitas ubikayu di Indonesia sebenarnya masih dapat ditingkatkan, bahkan  ada yang bisa mencapai lebih dari 100 ton/ha. Caranya  tentu saja dengan penggunaan varietas unggul yang sesuai dengan lokasi, bibit yang baik, pemupukan yang sesuai, penyiangan serta pengendalian hama dan penyakit.
Sejak 1978 sudah banyak varietas unggul yang dilepas  dengan keunggulan spesifik masing-masing  termasuk mengenai produktivitas dan kesesuaian penggunaannya. Untuk  kegunaan sebagai ubi rebus, ubi goreng, singkong keju, kerupuk, keripik dan tape ada varietas unggul Litbang UK2, Malang 1, Malang 2, Darul Hidayah danAdira 1. Untuk dijadikan pati, serbuk, tepung, tepung modifikasi, chips dan gaplek  pilihannya bisa jenis yang daging ubinya rasa tidak pahit yakni  varietas Libtang UK2, Adira 1, Malang 1, Malang 2, dan Darul Hidayah. Dapat pula menggunakan varietas yang daging ubinya rasa pahit  yakni Adira 2, Adira 4, Malang 4, Malang 6, UJ 3, danUJ 5. Varietas-varietas unggul tersebut siap pula dimanfaatkan untuk menghasilkan komoditas penting lainnya seperti gula cair dan  bioetanol.
Tidak Rakus Hara
Salah satu penghambat pengembangan produksi ubikayu ialah adanya  pendapat  tumbuhan ini rakus unsur hara.  Merujuk pada laporan penelitian Howeler (2008), Sholihin menegaskan bahwa ubikayu sebenarnya tidak rakus bila dibanding tanaman pangan lainnya. Penghilangan (penyerapan) nutrisi hara nitrogen (N) dari tanah  oleh ubikayu  dengan hasil 35,7 ton/ha (segar) mencapai 55 kg /ha. Angka ini  jauh di bawah kacang tanah (105 kg/ha), jagung (96 kg/ha), di bawah ubijalar (61 kg/ha), padi (60 kg/ha), dan hampir sama dengan gandum (56 kg/ha) dsb. Angka tersebut lebih tinggi dari tebu (43 kg/ha).
Penghilangan nutrisi hara Phospat (P) ubikayu tersebut di atas mencapai 13,2 kg/ha, lebih rendah dibanding  tebu (20,2 kg/ha), jagung (17,4 kg/ha), hampir sama dengan ubijalar (13,3 kg/ha), dan lebih tinggi dari gandum (12 kg/ha), padi (7,5 kg/ha), kacang tanah (6,5 kg/ha).
Penghilangan nutrisi yang menonjol oleh ubikayu adalah pada hara kalium (K) sebesar 112 kg/ha, lebih tinggi dari ubijalar (97 kg/ha), tebu (96 kg/ha), jauh lebih tinggi dibanding kacang tanah (35 kg/ha), jagung (26 kg/ha), padi dan gandum (masing-masing 13 kg/ha).
Data tentang penyerapan nutrisi dari tanah dapat digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam kebijakan  aplikasi pemupukan. Pemberian pupuk bersifat spesifik lokasi bergantung varietas, jenis tanah, kandungan hara serta kondisi alam serta sistem pertanaman. 
Laporan dari satu percobaan yang dilakukan menunjukkan bahwa perlakuan tanpa pupuk K memberikan hasil ubikayu terendah. Laporan lain menyebutkan penambahan pupuk organik yakni pupuk kandang dapat meningkatkan hasil ubikayu. Lainnya menyebutkan dampak positip sistem tumpangsari.
Varietas Malang 6 dilaporkan oleh Sholihin dkk  (2010) dapat memberi hasil lebih dari 100 ton/ha pada jarak pertanaman 1,25 x 1,25 m, dibumbun, dipupuk dengan 500 kg Ponska + 300 kg urea + 5-10 ton pupuk kandang per hektar.  Pada penanaman di tanah alfisol di Gunung Kidul, hasil ubikayu dapat meningkat 2-3 kali lipat oleh sistem tumpangsari dengan kacang tanah dan pemberian pupuk urea 150 kg + pupuk Za 100 kg/ha untuk ubikayu dan 25 kg urea untuk kacang tanah.
Tanam Tepat Waktu
Dua musuh utama tanaman ubikayu adalah hama tungau merah (Tetranycchus bimaculatis) dan penyakit busuk akar/ubi (root rot). Serangan tungau merah dapat menyebabkan kehilangan hasil ubikayu sampai 95%. Penyakit busuk akar dapat menyebabkan tanaman tumbuh kerdil dan tidak menghasilkan ubi.
Dua jenis penyakit busuk akar adalah  busuk basah dan busuk kering. Busuk basah disebabkan  jamur-jamur tanah seperti Fusarium sp, Phytopthora drechsleri dsb., sedangkan busuk kering disebabkan mikroba Sigidoporus lignosus dll. Fusarium dapat menyerang  ubi sejak awal hingga masak panen dan terbawa ke tempat penyimpanan  sehingga menyebabkan penyakit pasca panen.
Untuk menghindari  serangan tungau merah, dianjurkan agar menanam ubikayu yang  lebih tahan.  Di antara klon yang tahan tungau merah adalah Adira 4. Yang agak tahan adalah Litbang UK2, UJ 5, CMM 99008-3, MLG 10311, MLG 10032, MLG 10033, CMM 03069-6, dan CMM 03008-11.
Menghadapi busuk ubi oleh Fusarium perlu upaya khusus  menjaga drainase lahan yang cukup baik. Varietas tahan Fusarium memang masih jarang. Yang tahan adalah Adira. Yang  agak tahan adalah Litbang UK2 dan UJ 5.
Untuk lebih mendukung keberhasilan  produksi, diingatkan bahwa momen tanam yang ideal adalah secepat mungkin ketika hujan sudah mulai turun. Begitu hujan mulai, ubikayu langsung ditanam. Bila hujan sudah berlanjut baru ditanam, tanah sudah akan mulai asam sehingga pertumbuhan akar tidak sempurna.  Olson PS

Rabu, 28 Oktober 2015

Teknologi Produksi Benih Kedelai


Harus diakui persaingan penggunaan lahan membuat komoditi kedelai menjadi terpinggirkan. Belum lagi faktor rendahnya harga jual membuat petani lebih memilih komoditi yang lebih menguntungkan.
Namun upaya mengejar kecukupan pasokan dari dalam negeri tak pernah berhenti. Era pemerintahan Joko Widodo pun kembali mencanangkan swasembada kedelai. Langkah menuju swasembada dapat dilakukan melalui peningkatan produksi (intensifikasi) dan perluasan areal (ekstensifikasi).
Peningkatan produksi kedelai tidak terlepas peran dari kesiapan penyediaan benih. Ketua Dewan Kedelai Nasional , Benny Kusbini menilai, benih kedelai yang tersebar saat ini sudah cukup bagus. Sebab, benih tersebut sudah mendapatkan sertifikasi dari pemerintah sebagai benih unggul yang produksinya tinggi.
Tapi menurut Benny, yang mesti dikaji adalah budidayanya di petani. Apakah sudah sesuai apa belum. “Saya yakin benih saat ini sudah bagus, tetapi sayangnya terkadang budidaya di petaninya belum sesuai, sehingga hasil yang didapat tidak sesuai yang direncanakan,” katanya.
Benny mengatakan, rata-rata pro­duktivitas kedelai di petani hanya 1 ton/ha. Padahal saat demplot bisa menembus angka 2-3 ton/ha. Karena itu sebenarnya, produktivitas tanaman kedelai di tingkat petani bisa 2-3 ton/ha kalau budidayanya sesuai GAP (Good Agriculture Practices). “Jadi kesalahannya bukan pada benihnya melainkan di tingkat budidaya petani. Itu yang harus dikaji lagi mengapa bisa berbeda antara lahan demplot dan lahan petani,” katanya.
Jadi  menurut Benny bukan per­benih­annya yang harus diperbaiki, tapi budidaya di petaninya. Sebab, benih yang telah disebar merupakan benih yang teruji dan telah mendapatkan sertifikat.  “Bukan benihnya yang harus diperbaiki, tetapi budidaya agar kedelai kita ini kembali merajai di dalam negeri,” tegasnya.
Sementara itu, Profesor Riset/Peneliti Kedelai Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian, Prof. Dr. Marwoto, M.S mengatakan, benih memiliki peran strategis sebagai sarana pembawa teknologi baru berupa keunggulan yang dimiliki varietas  dengan berbagai spesifikasi keunggulan. Misalnya,  daya hasil tinggi, ketahanan terhadap hama dan penyakit, mendukung sistem pola tanam dan program pengendalian hama terpadu.
Keunggulan lainnya adalah umur genjah untuk meningkatkan indek pertanaman dan keunggulan hasil panen sehingga sesuai dengan selera konsumen. “Karena itu upaya menuju swasembada diperlukan penyediaan benih yang cukup memadai dan harus dirancang sejak awal,” katanya.