Tampilkan postingan dengan label materi penyuluhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label materi penyuluhan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Juni 2016

Cybex Day with BPP Purwoasri

Manfaat Buah Mundu (Apel Jawa)

Mundu / Apel Jawa

(Garcinia dulcis)

Mundu

Kerajaan:
Divisi:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
G. dulcis
Garcinia dulcis
(Roxb.) Kurz
Mundu atau rata (Garcinia dulcis) adalah :
Sejenis pohon buah-buahan minor (kurang penting) yang asli Indonesia. Buah ini juga biasa disebut apel jawa. Buahnya dapat dimakan segar atau diolah menjadi selai. Mundu tidak sama dengan mundung (menteng), meskipun namanya mirip. Mundu yang semakin langka ditemukan ini merupakan anggota marga Garcinia, sehingga juga berkerabat dekat dengan manggis (Garcinia mangostana) dan asam kandis (Garcinia parvifolia). Mundu dipercaya sebagai tanaman buah asli Indonesia yang hanya tumbuh di Jawa dan sebagian Kalimantan, meskipun tumbuhan ini juga tumbuh di Filipina dan Thailand, dan karena mutu buah ini kurang baik, maka buah ini kurang diremajakan.
Sinopsis :
Tanaman dari jenis manggis-manggisan {Garcinia) merupakan salah satu tumbuhan yang belum didayagunakan secara optimal. Padahal, beberapa jenis Garcinia merupakan penghasil kayu keras dan berharga tinggi, buahnya dapat dimakan, dan bijinya mengandung minyak. Selain itu, beberapa dari tanaman Garcinia digunakan untuk obat. Sebagian besar dari Garcinia di Indonesia masih tumbuh liar di hutan-hutan. Hanya sebagian kecil saja yang dilaporkan telah dibudidayakan di kebun-kebun penduduk di seluruh Indonesia. Salah satunya adalah Mundu (Garcinia duicis).
           Buah Mundu (Garcinia duicis) dapat dimakan langsung dan diolah menjadi selai bahkan sebagai campuran jamu tradisional. Kayu dan kulitnya dipakai sebagai campuran pembuat warna hijau alami. Tumbukan bijinya digunakan untuk mengobati pembengkakan, gondok, dan sariawan. Buah Mundu dipakai sebagai pencahar, antimalaria dan mengobati penderita gangguan empedu. Sedangkan pucuk daun Mundu muda digunakan untuk mengobati diare. Mundu juga dapat digunakan sebagai obat penurun demam, antiinflamasi, dan antipiretik. Selain itu, juga digunakan sebagai obat tradisional untuk struma, parotitis dan antimalaria. Dan masih banyak lagi kegunaan lain dari pohon langka yang sangat baik menyerap air hujan ini.
Buku ini mengupas tuntas khasiat dan manfaat yang ada pada tanaman mundu. Pohon yangsangat jarang kita temui ini ternyata menyimpan kegunaan yang sangat banyak. Namun justru karena itu, peluang bisnis tanaman buah langka si"apel jawa” ini menjadi terbuka lebar. Sumber BPP Purwoasri

Jumat, 06 November 2015

Tips Meningkatkan Produktivitas Ubikayu


Ketahanan dan kemandirian pangan merupakan salah satu tujuan utama program pembangunan pertanian yang digariskan pemerintah. Sasaran yang ingin dicapai meliputi swasembada berkelanjutan padi dan jagung serta kedelai.
Swasembada pangan  berkelanjutan akan lebih terjamin mudah bila didukung oleh diversifikasi pangan. Indonesia  kaya akan sumberdaya pangan  dan tradisi  untuk pengembangan diversifikasi pangan  yang luas dan berkelanjutan.
Salah satu jenis tanaman pangan yang sejak dahulu berperan penting dalam diversifikasi pangan di Indonesia adalah ubikayu. Ubikayu  memiliki potensi besar pula untuk  lebih dikembangkan lagi  sebagai komponen diversifikasi. Di antara alasannya, sebagaimana dikemukakan  Dr. Sholihin, ubikayu  dalam bentuk segar, tepung ataupun pati dapat diolah menjadi beragam jenis makanan. Lagipula, ubikayu ditanam di hampir seluruh provinsi di Indonesia  dengan kondisi lingkungan yang beragam. Namun, itu memerlukan ketersediaan bahan baku ubikayu yang cukup. Sedangkan faktanya sekarang, produktivitas ubikayu di tingkat petani dinilai masih rendah, sekitar 23 ton per hektar.
Menyampaikan makalah tentang  hasil-hasil penelitian ubikayu mendukung swasembada pangan pada seminar Tanaman Pangan di Bogor, peneliti senior dari Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi (Balitkabi), Malang itu  menekankan perlunya upaya meningkatkan produktivitas dan daya saing ubikayu.  Ia optimis karena produktivitas ubikayu di Indonesia sebenarnya masih dapat ditingkatkan, bahkan  ada yang bisa mencapai lebih dari 100 ton/ha. Caranya  tentu saja dengan penggunaan varietas unggul yang sesuai dengan lokasi, bibit yang baik, pemupukan yang sesuai, penyiangan serta pengendalian hama dan penyakit.
Sejak 1978 sudah banyak varietas unggul yang dilepas  dengan keunggulan spesifik masing-masing  termasuk mengenai produktivitas dan kesesuaian penggunaannya. Untuk  kegunaan sebagai ubi rebus, ubi goreng, singkong keju, kerupuk, keripik dan tape ada varietas unggul Litbang UK2, Malang 1, Malang 2, Darul Hidayah danAdira 1. Untuk dijadikan pati, serbuk, tepung, tepung modifikasi, chips dan gaplek  pilihannya bisa jenis yang daging ubinya rasa tidak pahit yakni  varietas Libtang UK2, Adira 1, Malang 1, Malang 2, dan Darul Hidayah. Dapat pula menggunakan varietas yang daging ubinya rasa pahit  yakni Adira 2, Adira 4, Malang 4, Malang 6, UJ 3, danUJ 5. Varietas-varietas unggul tersebut siap pula dimanfaatkan untuk menghasilkan komoditas penting lainnya seperti gula cair dan  bioetanol.
Tidak Rakus Hara
Salah satu penghambat pengembangan produksi ubikayu ialah adanya  pendapat  tumbuhan ini rakus unsur hara.  Merujuk pada laporan penelitian Howeler (2008), Sholihin menegaskan bahwa ubikayu sebenarnya tidak rakus bila dibanding tanaman pangan lainnya. Penghilangan (penyerapan) nutrisi hara nitrogen (N) dari tanah  oleh ubikayu  dengan hasil 35,7 ton/ha (segar) mencapai 55 kg /ha. Angka ini  jauh di bawah kacang tanah (105 kg/ha), jagung (96 kg/ha), di bawah ubijalar (61 kg/ha), padi (60 kg/ha), dan hampir sama dengan gandum (56 kg/ha) dsb. Angka tersebut lebih tinggi dari tebu (43 kg/ha).
Penghilangan nutrisi hara Phospat (P) ubikayu tersebut di atas mencapai 13,2 kg/ha, lebih rendah dibanding  tebu (20,2 kg/ha), jagung (17,4 kg/ha), hampir sama dengan ubijalar (13,3 kg/ha), dan lebih tinggi dari gandum (12 kg/ha), padi (7,5 kg/ha), kacang tanah (6,5 kg/ha).
Penghilangan nutrisi yang menonjol oleh ubikayu adalah pada hara kalium (K) sebesar 112 kg/ha, lebih tinggi dari ubijalar (97 kg/ha), tebu (96 kg/ha), jauh lebih tinggi dibanding kacang tanah (35 kg/ha), jagung (26 kg/ha), padi dan gandum (masing-masing 13 kg/ha).
Data tentang penyerapan nutrisi dari tanah dapat digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam kebijakan  aplikasi pemupukan. Pemberian pupuk bersifat spesifik lokasi bergantung varietas, jenis tanah, kandungan hara serta kondisi alam serta sistem pertanaman. 
Laporan dari satu percobaan yang dilakukan menunjukkan bahwa perlakuan tanpa pupuk K memberikan hasil ubikayu terendah. Laporan lain menyebutkan penambahan pupuk organik yakni pupuk kandang dapat meningkatkan hasil ubikayu. Lainnya menyebutkan dampak positip sistem tumpangsari.
Varietas Malang 6 dilaporkan oleh Sholihin dkk  (2010) dapat memberi hasil lebih dari 100 ton/ha pada jarak pertanaman 1,25 x 1,25 m, dibumbun, dipupuk dengan 500 kg Ponska + 300 kg urea + 5-10 ton pupuk kandang per hektar.  Pada penanaman di tanah alfisol di Gunung Kidul, hasil ubikayu dapat meningkat 2-3 kali lipat oleh sistem tumpangsari dengan kacang tanah dan pemberian pupuk urea 150 kg + pupuk Za 100 kg/ha untuk ubikayu dan 25 kg urea untuk kacang tanah.
Tanam Tepat Waktu
Dua musuh utama tanaman ubikayu adalah hama tungau merah (Tetranycchus bimaculatis) dan penyakit busuk akar/ubi (root rot). Serangan tungau merah dapat menyebabkan kehilangan hasil ubikayu sampai 95%. Penyakit busuk akar dapat menyebabkan tanaman tumbuh kerdil dan tidak menghasilkan ubi.
Dua jenis penyakit busuk akar adalah  busuk basah dan busuk kering. Busuk basah disebabkan  jamur-jamur tanah seperti Fusarium sp, Phytopthora drechsleri dsb., sedangkan busuk kering disebabkan mikroba Sigidoporus lignosus dll. Fusarium dapat menyerang  ubi sejak awal hingga masak panen dan terbawa ke tempat penyimpanan  sehingga menyebabkan penyakit pasca panen.
Untuk menghindari  serangan tungau merah, dianjurkan agar menanam ubikayu yang  lebih tahan.  Di antara klon yang tahan tungau merah adalah Adira 4. Yang agak tahan adalah Litbang UK2, UJ 5, CMM 99008-3, MLG 10311, MLG 10032, MLG 10033, CMM 03069-6, dan CMM 03008-11.
Menghadapi busuk ubi oleh Fusarium perlu upaya khusus  menjaga drainase lahan yang cukup baik. Varietas tahan Fusarium memang masih jarang. Yang tahan adalah Adira. Yang  agak tahan adalah Litbang UK2 dan UJ 5.
Untuk lebih mendukung keberhasilan  produksi, diingatkan bahwa momen tanam yang ideal adalah secepat mungkin ketika hujan sudah mulai turun. Begitu hujan mulai, ubikayu langsung ditanam. Bila hujan sudah berlanjut baru ditanam, tanah sudah akan mulai asam sehingga pertumbuhan akar tidak sempurna.  Olson PS

Teknologi Pemanfaatan Sampah Rumah Tangga Menjadi Kompos


Disekeliling kita bahan baku pupuk organik yang berasal dari sampah rumah tangga ternyata cukup besar. Sumber terbanyak berasal dari lokasi rumah tangga dan pasar tradisional.  Untuk sampah pasar sebagian besar komposisinya (95%) berupa sampah organik, sedang sampah yang berasal dari rumah tangga minimal terdiri sampah organic (75%) dan sisanya anorganik.  Untuk memanfaatkan sampah rumah tangga tsb,
BPTP Jawa Timur melaksanakan Pengkajian Produksi dan Pemanfaatan Limbah Organik dari Sampah Rumah Tangga dengan menggunakan berbagai macam dekomposer. Dekomposer yang dicobakan yaitu  Promi, SuperDegra, dan EM-4 dan dilakukan juga analisis kimia Kimia Bahan Organik dari Sampah Rumah Tangga dengan Menggunakan Berbagai Macam dekomposer tersebut (Tabel 1).
Tabel 2.   Hasil Aanalisis Kimia Bahan Organik Berbahan Baku Sampah Rumah Tangga dengan Menggunakan Berbagai Macam Dekomposer (4 – 5 Minggu Setelah Inkubasi)
No.
 
 
Perlakuan
 
 
Analisis
 
 
pH
 
 
C-organik
 
 
N-total
 
 
C/N ratio
 
 
 
P2O5
 
 
K2O
 
 
Na
 
 
Ca
 
 
Mg
 
 
(%)
 
 
(%)
 
 
(%)
 
 
(%)
 
 
1.
 
 
Sampah rumah tangga + BioSun
 
 
8,2
 
 
 15,56
 
 
1,51
 
 
11,88
 
 
0,98
 
 
1,28
 
 
0,54
 
 
3,18
 
 
0,47
 
 
2.
 
 
Sampah rumah tangga + SuperDegra
 
 
6,9
 
 
10,16
 
 
0,64
 
 
15,88
 
 
2,89
 
 
0,41
 
 
0,07
 
 
2,93
 
 
0,29
 
 
3.
 
 
Sampah rumah tangga + Promi
 
 
8,4
 
 
18,17
 
 
1,57
 
 
13,56
 
 
1,09
 
 
1,39
 
 
0,48
 
 
4,06
 
 
0,58
 
 
4.
 
 
Sampah rumah tangga + EM-4
 
 
8,3
 
 
15,41
 
 
1,56
 
 
12,04
 
 
1,06
 
 
1,67
 
 
0,48
 
 
4,86
 
 
0,83
 
 
5.
 
 
Sampah rumah SuperDegra + pupuk kandang + dedak + tetes
 
 
8,3
 
 
10,61
 
 
0,58
 
 
18,29
 
 
3,24
 
 
0,42
 
 
0,06
 
 
3,31
 
 
0,28
 
 
6.
 
 
Sampah rumah tangga + Promi +   pupuk kandang + dedak + tetes
 
 
8,0
 
 
18,89
 
 
1,29
 
 
17,33
 
 
1,09
 
 
1,22
 
 
0,46
 
 
5,33
 
 
0,63
 
 
7.
 
 
Sampah rumah tangga + EM-4 + pupuk kandang + dedak + tetes
 
 
7,9
 
 
18,11
 
 
1,29
 
 
16,46
 
 
1,05
 
 
1,17
 
 
0,41
 
 
4,50
 
 
0,5


Rabu, 28 Oktober 2015

Teknologi Produksi Benih Kedelai


Harus diakui persaingan penggunaan lahan membuat komoditi kedelai menjadi terpinggirkan. Belum lagi faktor rendahnya harga jual membuat petani lebih memilih komoditi yang lebih menguntungkan.
Namun upaya mengejar kecukupan pasokan dari dalam negeri tak pernah berhenti. Era pemerintahan Joko Widodo pun kembali mencanangkan swasembada kedelai. Langkah menuju swasembada dapat dilakukan melalui peningkatan produksi (intensifikasi) dan perluasan areal (ekstensifikasi).
Peningkatan produksi kedelai tidak terlepas peran dari kesiapan penyediaan benih. Ketua Dewan Kedelai Nasional , Benny Kusbini menilai, benih kedelai yang tersebar saat ini sudah cukup bagus. Sebab, benih tersebut sudah mendapatkan sertifikasi dari pemerintah sebagai benih unggul yang produksinya tinggi.
Tapi menurut Benny, yang mesti dikaji adalah budidayanya di petani. Apakah sudah sesuai apa belum. “Saya yakin benih saat ini sudah bagus, tetapi sayangnya terkadang budidaya di petaninya belum sesuai, sehingga hasil yang didapat tidak sesuai yang direncanakan,” katanya.
Benny mengatakan, rata-rata pro­duktivitas kedelai di petani hanya 1 ton/ha. Padahal saat demplot bisa menembus angka 2-3 ton/ha. Karena itu sebenarnya, produktivitas tanaman kedelai di tingkat petani bisa 2-3 ton/ha kalau budidayanya sesuai GAP (Good Agriculture Practices). “Jadi kesalahannya bukan pada benihnya melainkan di tingkat budidaya petani. Itu yang harus dikaji lagi mengapa bisa berbeda antara lahan demplot dan lahan petani,” katanya.
Jadi  menurut Benny bukan per­benih­annya yang harus diperbaiki, tapi budidaya di petaninya. Sebab, benih yang telah disebar merupakan benih yang teruji dan telah mendapatkan sertifikat.  “Bukan benihnya yang harus diperbaiki, tetapi budidaya agar kedelai kita ini kembali merajai di dalam negeri,” tegasnya.
Sementara itu, Profesor Riset/Peneliti Kedelai Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian, Prof. Dr. Marwoto, M.S mengatakan, benih memiliki peran strategis sebagai sarana pembawa teknologi baru berupa keunggulan yang dimiliki varietas  dengan berbagai spesifikasi keunggulan. Misalnya,  daya hasil tinggi, ketahanan terhadap hama dan penyakit, mendukung sistem pola tanam dan program pengendalian hama terpadu.
Keunggulan lainnya adalah umur genjah untuk meningkatkan indek pertanaman dan keunggulan hasil panen sehingga sesuai dengan selera konsumen. “Karena itu upaya menuju swasembada diperlukan penyediaan benih yang cukup memadai dan harus dirancang sejak awal,” katanya.  

Cara Pembuatan Pestisida Nabati Dari Bawang putih (Allium sativum L)


Cara kerja pestisida nabati sangat spesifik, yaitu:  (1) merusak perkembangan telur, larva dan pupa. (2) menghambat pergantian kulit. (3) mengganggu komunikasi serangga. (4) menyebabkan serangga menolak makan. (5) menghambat reproduksi serangga betina. (6) mengurangi nafsu makan. (7) memblokir kemampuan makan serangga. (8) mengusir serangga. (9) menghambat perkembangan patogen penyakit.
Pestisida nabati mempunyai beberapa keunggulan dan kelemahan. Keunggulan  pestisida nabati adalah: (1) murah dan mudah dibuat sendiri oleh petani. (2) relatif aman terhadap lingkungan. (3) tidak menyebabkan keracunan pada tanaman. (4) sulit menimbulkan kekebalan terhadap hama. (5) kompatibel digabung dengan cara pengendalian yang lain. (6) menghasilkan produk pertanian yang sehat karena bebas residu pestisida kimia.
Sementara, kelemahannya adalah: (1) daya kerjanya relatif lambat. (2) tidak membunuh jasad sasaran secara langsung. (3) tidak tahan terhadap sinar matahari. (4) kurang praktis. (5) tidak tahan disimpan. (6) kadang-kadang harus diaplikasikan / disemprotkan berulang-ulang.
Pestisida nabati dapat diaplikasikan dengan menggunakan alat semprot (sprayer) gendong seperti pestisida kimia pada umumnya. Namun, apabila tidak dijumpai alat semprot, aplikasi pestisida nabati dapat dilakukan dengan bantuan kuas penyapu (pengecat) dinding atau merang yang diikat. Caranya, alat tersebut dicelupkan kedalam ember yang berisi larutan pestisida nabati, kemudian dikibas-kibaskan pada tanaman. Supaya penyemprotan pestisida nabati memberikan hasil yang baik, butiran semprot harus diarahkan ke bagian tanaman dimana jasad sasaran berada. Apabila sudah tersedia ambang kendali hama, penyemprotan pestisida nabati sebaiknya  berdasarkan ambang kendali. Untuk menentukan ambang kendali, perlu dilakukan pengamatan hama seteliti mungkin. Pengamatan yang tidak teliti dapat mengakibatkan hama sudah terlanjur besar pada pengamatan berikutnya dan akhirnya sulit dilakukan pengendalian.
Ekstrak bawang putih
Bahan dan Alat :
85 gram bawang putih
50 ml minyak sayur
10 ml deterjen/sabun
950 ml air
Alat penyaring
Botol
Cara Pembuatan :
Campurkan bawang putih dengan minyak sayur. Biarkan selama 24 jam. Tambahkan air dan sabun. Aduk hingga rata. Simpan dalam botol paling lama 3 hari.
Cara Penggunaan :
Campurkan larutan dengan air dengan perbandingan 1 : 19 atau 50 ml larutan dengan 950 ml air. Kocok sebelum digunakan. Semprotkan ke seluruh bagian tanaman yang terserang OPT pada pagi hari
OPT Sasaran :
Ulat, hama pengisap, nematoda, bakteri, antraknos, embun tepung

Ekstrak bawang putih
Bahan dan Alat :
2 siung bawang putih
Deterjen/sabun
4 cangkir air
Alat penumbuk/blender
Alat penyaring
Botol
Cara Pembuatan :
Hancurkan bawang putih, rendam dalam air selama 24 jam. Tambahkan air dan sabun. Saring. Masukkan dalam botol
Cara Penggunaan :
Tambahkan larutan dengan air dengan perbandingan 1 : 9 air. Kocok sebelum digunakan. Semprotkan ke seluruh bagian tanaman yang terserang ada pagi hari
OPT Sasaran :
Cendawan

Ekstrak minyak bawang putih
Bahan dan Alat :
100 gram bawang putih
2 sendok makan minyak sayur
10.5 liter air
10 ml deterjen/sabun
Deterjen
Cara Pembuatan :
Hancurkan bawang putih. Rendam dalam minyak sayur selama 24 jam. Tambahkan ½ liter air dan deterjen. Aduk hingga rata. Saring
Cara Penggunaan :
Tambahkan 10 liter air kedalam larutan. Aduk hingga merata. Semprotkan ke seluruh bagian tanaman yang terserang OPT pada pagi hari
OPT Sasaran :
Hama kubis, belalang dan kutudaun

Minyak bawang putih
Bahan dan Alat :
50 ml minyak bawang putih
950 ml air
1 ml deterjen/sabun
Cara Pembuatan :
Tambahkan sabun ke dalam minyak bawang putih. Aduk hingga rata. Tambahkan air. Aduk
Cara Penggunaan :
Semprotkan ke seluruh bagian tanaman yang terserang pada pagi atau sore hari
OPT Sasaran :
Ulat buah tomat
Ulat penggerek umbi kentang
Wereng padi
Nematoda

Sumber : e-Petani Kementan RI