Jumat, 20 April 2012

Varietas Adaptif terhadap Perubahan Iklim



 


Program penelitian padi, khususnya pemuliaan tanaman, telah dikaji ulang dan disesuaikan dengan upaya untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim. Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui perakitan varietas toleran rendaman, kekeringan, suhu tinggi, dan salinitas.
Berbagai pendekatan untuk menghasilkan varietas padi yang lebih baik melalui perbaikan sumber daya genetik terbukti dapat mengurangi kerentanan tanaman terhadap cekaman yang timbul karena dampak perubahan iklim. Perbaikan hasil dan ketahanan tanaman terus dilakukan agar tetap bisa berproduksi tinggi pada lingkungan yang mengalami cekaman abiotik.

Toleran rendaman. 
Bekerja sama dengan IRR, BB Padi telah merakit varietas dengan memasukkan Gen Sub1 (submergence 1) ke dalam varietas padi yang sudah berkembang di Indonesia. Gen Sub1 adalah ethylene-response-factor, semacam gen yang memberi sifat toleran rendaman melalui pengurangan sensitivitas tanaman padi terhadap ethilen, yang merupakan hormon yang mendorong proses perpanjangan tanaman, pelepasan energi yang disimpan dan penguraian klorofil Introduksi gen ini memungkinkan tanaman bertahan dalam keadaan terendam selama 10-14 hari. Galur Swarna-Sub1 (IR05F102) dilepas dengan nama Inpara 4 dan galur IR64-Sub1 (IR07F102) dilepas dengan nama Inpara 5 toleran terhadap rendaman. Varietas Ciherang yang banyak ditanam petani juga sudah ditingkatkan toleransinya terhadap rendaman dengan memasukkan gen Sub1 yang sekarang sedang dalam uji daya hasil.
 
Toleran kekeringan
Untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang, BB Padi telah melepas varietas unggul toleran kekeringan. Inpago 5 merupakan varietas unggul padi gogo toleran kekeringan dan mampu berproduksi 6 t/ha. Keunggulan lainnya dari varietas unggul baru ini adalah tahan terhadap beberapa ras penyakit bias yang merupakan penyakit utama padi gogo dan agak toleran keracunan AI yang umumnya mendominasi lahan kering masam.
Inpari 10 adalah varietas unggul baru padi sawah yang toleran terhadap kekeringan dengan potensi hasil 7 t/ha. Memiliki batang kokoh, Inpari 10 tahan rebah dan agak tahan terhadap hama wereng batang coklat (WBC) dan penyakit hawar daun bakteri (HDB) strain III.
Di samping dua varietas tersebut, BB Padi juga telah melepas varietas berumur sangat genjah yaitu Inpari 1, Inpari 11, Inpari 12, dan Inpari 13. Penggunaan varietas sangat genjah ini dapat membebaskan tanaman dari ancaman kekeringan.

Toleran salinitas. 
varietas Banyuasin toleran terhadap lahan berkadar garam tinggi (salinitas), dan telah berkembang di beberapa daerah pasang surut, antara lain di Sumatera Selatan. Varietas unggul ini tahan terhadap penyakit bias, agak tahan terhadap WBC biotipe 3 dan penyakit HDB strain III. Varietas Lambur yang dilepas berikutnya untuk lahan salin juga memiliki ketahanan terhadap bias dan toleran terhadap keracunan Fe dan Al.

Tahan wereng batang coklat dan tungro.
 
Ada kecenderungan ledakan hama WBC dan perkembangan hama penyakit lainnya yang mengancam pertanaman padi di beberapa daerah akhir-akhir ini terkait dengan dampak perubahan iklim, terutama akibat meningkatnya suhu dan kelembaban. BB Padi terus berupaya menghasilkan varietas unggul berdaya hasil tinggi dan tahan terhadap hama dan penyakit. Varietas Inpari 13 yang dilepas pada tahun 2010 tahan terhadap WBC, umur genjah (103 hari), dan toleran kekeringan dengan potensi hasil 8 t/ha. Kini varietas Inpari 13 sudah mulai berkembang di beberapa sentra produksi padi. Selain itu teiah tersedia pula dua calon varietas unggul padi sawah yang tahan terhadap hama WBC, keduanya akan dilepas dengan nama Inpari 18 dan Inpari 19.
Tungro, penyakit utama padi sawah, pernah merusak pertanaman padi, terutama di Sulawesi, Bali, sebagian Jawa dengan kerugian yang cukup besar. Hasil pengujian Lokal Penelitian Penyakit Tungro di Lanrang, Sulawesi Selatan, menunjukkan varietas unggul baru Inpari 7 dan Inpari 9 lebih tahan terhadap penyakit tungro dibanding varietas tahan yang dilepas sebelumnya, seperti Tukad Unda dan fukad Petanu. Inpari 7 dan Inpari 9 berdaya hasil masing-masing 8,7 t dan 9,9 t/ha.
Beberapa galur generasi lanjut OBSTG-02 137, 124, 130, 154, 37, 56, 139, 138, 134, dan 156 dipersiapkan sebagai calon varietas unggul baru tahan tungro. Pada uji multilokasi dapat diidentifikasi galur yang memiliki kesesuaian dengan agroekosistem setempat. Dalam waktu dekat akan diusulkan salah satu dari beberapa galur tersebut untuk dilepas sebagai varietas unggul tahan tungro dengan daya hasil yang sama atau lebih tinggi dari varietas Ciherang yang saat ini mewarnai sebagian areal pertanaman padi.
(sumber: Teknologi Tanaman Pangan Menghadapi Perubahan Iklim, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian). Cortesy of Cyber Extension Kementan RI

Tidak ada komentar: