Jumat, 20 April 2012

Varietas Jagung Toleran Kekeringan, Umur Genjah, Toleran Genangan, Tahan Hama dan Penyakit




Pada lahan sawah irigasi, jagung ditanam dengan pola tanam padi-padi-jagung atau padi-jagung-jagung. Pada lahan kering beriklim basah, jagung bisa ditanam dua kali dalam setahun. Pada lahan kering beriklim kering, jagung hanya dapat diusahakan satu kali setahun. Dengan pola tanam demikian, tanaman jagung berpotensi mengalami penurunan hasil bila menghadapi curah hujan yang tidak menentu. Pada musim kemarau panjang, pilihan terbaik adalah menanam varietas toleran kekeringan.
Balitsereal telah menghasilkan jagung toleran kekeringan, yaitu varietas Bima 4 untuk jenis hibrida dan Lamuru untuk jenis komposit, masing-masing dengan potensi hasil 11,71 dan 7,6 t/ha. Kedua varietas ini telah dikembangkan di daerah kering beriklim kering, antara lain di Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan. Hingga saat ini telah dihasilkan pula galur harapan jagung komposit toleran kekeringan dengan potensi hasil 9,1-9,7 t/ha.

Varietas Umur Genjah
Perakitan varietas unggul jagung umur genjah (80-90 hari) dan super genjah (70-80 hari) merupakan salah satu upaya untuk meminimalisasi kegagalan panen akibat pendeknya periode hujan yang merupakan dampak dari perubahan iklim. Jagung umur genjah dan super genjah dapat diintegrasikan ke dalam sistem Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) untuk meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) dari 1-2 kali setahun menjadi 3-4 kali jagung dengan sistem tanam sisip.
Hingga kini telah dilepas beberapa varietas jagung hibrida dan komposit berumur genjah, seperti Bima 7 dan Bima 8 (hibrida), dan Gumarang (komposit) dengan umur panen masing-masing 89,88, dan 82 hari dengan potensi hasil 8-12 t/ha. Dua galur harapan jagung (ST201054 dan ST 201043) juga telah teridentifikasi berumur super genjah (<80 hari) dengan potensi hasil 9,4-10,7 t/ha.
 

Verietas Toleran Genangan
Selain kekeringan, perubahan iklim juga mengakibatkan terjadinya hujan berkepanjangan yang berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman jagung, terutarna pada stadisi vegetative awal. Untuk mengantisipasi kondisi ini telah dilakukan skrining galur dengan tingkat toleransi tinggi terhadap genangan. Saat ini terdapat lima galur yang toleran terhadap genangan dengan potensi hasil 8-9 t/ha, yaitu GM 226, GM 228, GM 291, GM 327, dan GM 338.

Varietas Tahan Hama dan Penyakit
Penyakit bulai merupakan penyakit utama tanaman jagung yang apabila tidak dikendalikan akan menyebabkan kehilangan hasil, bahkan tanaman mengalami pusu, Peningkatan suhu dan kelembaban akhir-akhir ini diperkirakan makin mempercepat perkembangbiakan dan penyebaran spora. Beberapa daerah, antara lain Bengkayang di Kalimantan Barat dan Kediri di Jawa Timur, telah menjadi daerah endemik penyakit bulai. Untuk menanggulangi penyakit ini telah dilakukan pencarian gen-gen tahan hama dan penyakit. Karakterisasi molekuler berbasis marka SSR [Single Sequence Repeats) dan SNP [Single Nucleotide Polymorphisms) untuk perakitan varietasjagung toleran cekaman abiotik juga telah dilakukan melalui proses penelusuran gen secara molekuler dan pengurutan DNA. Sejak tiga tahun terakhir telah teridentifikasi beberapa galur jagung dengan ketahanan spesifik terhadap hama dan penyakit.


(sumber: Teknologi Tanaman Pangan Menghadapi Perubahan Iklim, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian). Cortesy of Cyber Extension Kementan RI

Tidak ada komentar: