Senin, 18 Maret 2013

Menjaga Kualitas Rimpang Temulawak


Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) tanaman asli Indonesia yang dibudidayakan untuk diambil rimpangnya. Rimpang temulawak banyak digunakan sebagai bahan baku obat tradisionil. Selain itu, juga dapat digunakan untuk pewarna, bahan baku industri kosmetik, dan minuman segar.
Rimpang temu lawak juga dijual di pasaran dalam  bentuk segar maupun kering, untuk diramu sendiri oleh konsumen dengan bahan lain menjadi jamu. Dilihat dari kegunaannya, rimpang temulawak harus dijaga jangan sampai rusak untuk mempertahankan kualitasnya. Caranya dengan melakukan pemanenan yang baik dan benar.
Temulawak dapat dipanen dengan optimal pada saat rimpang berumur 10 - 12 bulan setelah tanam. Pada umur tersebut, asimilat di bagian vegetatif sudah beralih ke bagian rimpang, sehingga kualitas rimpang mencapai optimal. Namun temulawak bisa ditunda masa panennya 1, 2 atau 3 tahun. Penundaan masa panen sering dilakukan oleh petani temulawak untuk menghindari nilai jual yang sedang rendah dan akan dipanen jika ada permintaan pasar atau mencapai harga yang layak atau menguntungkan.
Tanda-tanda Temulawak Siap Dipanen
Temulawak yang telah berumur 10 - 12 bulan setelah tanam siap dipanen dengan mempunyai tanda-tanda antara lain sebagai berikut: 1) Warna daun berubah dari hijau menjadi kuning dan semua batangnya mengering; 2) Kulit rimpang kencang dan tidak mudah terkelupas atau tidak mudah lecet; 3) Apabila rimpang dipatahkan terlihat berserat dan aroma rimpang menyengat; dan 4) Warna rimpang lebih mengkilat dan terlihat bernas (padat).
Untuk mengetahuinya tanda-tanda rimpang temulawak dengan mengambil contoh beberapa tanaman secara acak dalam satu kebun dan dibongkar tanahnya sampai rimpang bisa dilihat untuk memastikan tanda-tanda tersebut. Setelah selesai rimpang diuruk kembali dengan tanah yang dibongkar tadi.
Cara Pemanenan
Pemanenan temulawak merupakan kegiatan pengambilan hasil tanaman temulawak berupa rimpang. Cara pemanenan yang benar dan baik diperlukan untuk menjaga kualitas rimpang. Adapun cara menanennya sebagai berikut: 1) Lakukan kegiatan panen pada saat tanaman temulawak berumur 10 - 12 bulan atau setelah semua daun menguning dan mongering; 2) Lakukan panen dengan membongkar tanah sekitar rimpang secara perlahan-lahan sampai rimpang mudah diambil, jangan dicabut dan usahakan jangan sampai rimpang terluka. Pembongkaran tanah dengan menggunakan garpu/cangkul dan golok/sabit; 3) Rimpang-rimpang temu lawak yang sudah diambil dari dalam tanah ditaruh dalam wadah kerangjang bambu untuk dibawa kepinggir kebun dan dimasukkan dalam karung plastik agar mempermudah dalam pengangkutan ke tempat penyimpanan atau proses lebih lanjut; 4) Rimpang dipilih yang bagus, yaitu besar, tua/bernas, tidak busuk/rusak/cacat dan dibersihkan dari tanah serta kotoran lain yang menempel dengan cara dipukul perlahan-lahan, lalu daun-daun, batang dan akar dipotong dengan dengan menggunakan pisau tajam dan bersih. Selanjutnya siap dugunakan secara segar atau diproses untuk diawetkan.

Penulis : SUSILO ASTUTI H.
(Penyuluh Pertanian, Pusluhtan)

Sumber informasi:
1. Mono Rahardjo dan Ekwasita Rini Pribadi. Standar Operasional Prosedur (SOP) Budidaya Temu Lawak. Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. 2011.
2. Setiawan Dalimartha. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, Jilid 2. 2007. Jakarta, Trubus Agriwidya.
3. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, Jilid 2. 2007. Jakarta, Trubus Agriwidya. 
4. Sumber Gambar: www.google.com
5. Sumber dipublikasikan oleh Cyber Extension Kementan RI

Perlu dibaca :
Lele Sangkuriang
Workshop Pengembangan ePetani

2 komentar:

Setiono mengatakan...

Jamuu... kadang terasa pahit, tetapi sungguh manis khasiatnya....

DKPP Kab Kediri mengatakan...

Betul Pak Setiono.... kalo jamu terasa manis itu namanya beras kencur hehe....